Rabu, 03 Februari 2016

Renungan Pendidikan #62 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #62
‪#‎fitrahbakat‬
Jangan kaget jika anda mendengar atau melihat ada bayi atau balita yang bisa diajarkan kalkulus yang biasanya diajarkan pada mahasiswa semester akhir.
Jangan heran jika ada anak balita yang mampu menghafal satu halaman hanya melihat sepintas beberapa detik, bahkan menghafal alQuran sebelum usia 3 tahun.
Juga jangan takjub jika ada balita mampu memainkan partitur musik Paganini dan Bach dengan sempurna dan indah, atau melukis seindah maestro lukis dsbnya.
Tetapi yang terpenting, jangan panik, jika bayi anda bukan seperti bayi atau balita di atas yang nampak jenius. Jangan lebay obsesif sehingga dengan segera menggegas bayi atau balita anda agar kelak bayi anda bisa seperti itu.
Secara alamiah fitrah perkembangan, selain belum perlu di usia balita belajar yang rumit kognitif, juga belum tentu sesuai fitrah bakat anak kita.
Juga sadarlah bahwa tidak semua bayi diciptakan sama, bahkan tiap bayi lahir fitrah atau diciptakan tanpa contoh alias unik.
Hati hatilah, jika obsesif maka anda dan anak anda bisa terancam frustasi, depresi dan malah kehilangan percaya diri dan jatidiri karena tak kenal diri dan tak tahu diri.
Mengapa demikian? Karena berharap dan berobsesi agar bayi anda seperti bayi lain adalah harapan orang yang tidak beriman dan tidak bersyukur. Karena dengan begitu kita sedang menuju kepada kufur nikmat fitrah dan memancing adzab.
Ketahulah bahwa setiap bayi adalah unik dan punya potensi istimewa masing masing karena keunikannya itu. Dan setiap makhluk pasti memilik keistimewaan dan keterbatasan, yang sesungguhnya tiap keterbatasan itu menyertai dan melengkapi keistimewaannya.
Jadi bisa saja bayi bayi yang hebat di atas tadi adalah bayi berbakat khusus dan jenius dalam satu sisi, namun di sisi lainnya bayi dan balita itu bisa jadi memiliki kelemahan atau keterbatasan sebagai pelengkap keistimewaannya itu.
Ketahuilah, anak balita jenius yang bisa menghafal satu halaman dengan hanya melihat sepintas, umumnya adalah anak autis cerdas, yang mampu mengkontekskan antar kata dalam tulisan dengan cepat. Itu karena mereka sangat sensitif terhadap pendengaran dan penglihatan, namun justru punya keterbatasan lain misalnya nampak tidak normal dalam sosialnya karena bereaksi berlebihan terhadap suara dan visual.
Ketahuilah anak anak yang memiliki bakat seni hebat, seringkali dijumpai memiliki kesulitan rekognisi huruf dan angka atau disleksia. Mereka melihat barisan huruf meloncat loncat seperti menari nari berputar putar. Inilah keterbatasan mereka.
Anak anak yang nampak tidak jenius seperti di atas bukan berarti tidak memiliki keistimewaan.
Jadi misalnya jangan sedih dan galau jika anak anda sulit menghafal, atau mudah melupakan apa yang dihafal, karena menjadi penghafal memerlukan tingkat kecerdasan dan bakat khusus.
Jangan bandingkan anak anda dengan Ulama yang sudah hafal 30 juz pada usia balita atau yang hafal dua juta hadits beserta riwayatnya, karena tidak setiap anak punya kehebatan yang sama seperti orang orang hebat itu.
Jangan pernah mendoakan anak anda agar menjadi seperti orang lain, namun doakanlah agar anak anda menjalani jalan fitrah bakatnya sehingga karya dan keshalihan atas potensi atau sifat uniknya setara dengan karya dan keshalihan orang orang shalih sebelumnya
Amati dan temukan saja sisi keistimewaan anak kita. Sisi keistimewaan itulah pintu keshalihan, peran peradabannya, misi spesifik penciptaanya dan jalan cahayanya yang akan menerangi alam semesta. Mulailah dari sana dengan konsisten. Itulah jalan suksesnya.
Maka kebersyukuran melahirkan ketenangan dan keoptimisan dalam mendidik. Menghantarkan kita dan anak kita menuju kesejatian fitrah penciptaan Allah SWT.
"Barang siapa menempuh jalannya, maka dia akan sampai kepada tujuannya"
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #63 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #63
‪#‎fitrahbelajar‬ dan nalar
Ada kekhawatiran dan kecemasan berlebihan dari banyak orangtua bahkan guru guru di sekolah ketika anaknya atau siswanya malas belajar, susah konsentrasi, tidak bisa duduk tenang, tidak mau menyimak ketika diterangkan dsbnya.
Ada juga orangtua yang ingin anaknya di HomeSchooling kan, kemudian merasa ragu terhadap dirinya, "apa yang bisa saya ajarkan pada anak anak saya jika mereka belajar di rumah, apakah saya mampu mentransfer begitu banyak pelajaran kepada anak anak saya, jangankan mengajarkan seabrek pelajaran, menemani anak menyelesaikan PR nya bisa jadi huru hara dan darah tinggi saya kumat".
Ada lagi yang belajar menghipnotis anaknya agar rajin belajar. Ada lagi yang nampak lebih manusiawi, yaitu memanipulasi gaya belajar untuk menjejalkan pelajaran dan pengetahuan lalu merasa sudah memanusiakan manusia.
Begitulah,baik anak sekolah maupun "tidak sekolah", umumnya perilaku dan paradigma kebanyakan orangtua dan guru, bahwa pendidikan adalah usaha keras dan berat untuk mengajarkan dan menjejalkan berbagai macam pengetahuan baik konten agama maupun konten akademis kepada anak anak, kalau perlu bahkan mendominasi dan memanipulasi.
Ujung ujungnya, jika pendidikan dipandang pengajaran seperti itu, maka anak dioutsource sepenuhnya ke guru sekolah untuk diajarkan.
Guru sekolah lalu kewalahan dan kemudian membiarkan siswanya "berburu" Bimbingan Belajar atau Bimbingan Tes.
Sudah dapat dipastikan, bimbingan belajar hanya sekedar menuntun anak agar bisa lulus ujian atau test dengan nilai setinggi-tingginya. Lalu semua menyangka telah terjadi proses pendidikan.
Yang terjadi di atas sebenarnya bukan proses pendidikan, namun ilusi pendidikan yang berangkat dari ketidakyakinan bahwa anak memiliki fitrah belajar yang hebat dari dalam dirinya sebagai bekal seorang khalifah di muka bumi.
Proses diatas adalah upaya lepas tanggungjawab karena berfikir pendidikan adalah pengajaran yang melelahkan.
Mereka tidak percaya bahwa anak anak sesungguhnya mau dan mampu belajar mandiri (self learning) sepanjang lingkungannya mendukung dan "membiarkannya belajar" dengan nyaman, bukan "membuatnya belajar" dengan tekanan.
Mari simak riset sederhana berikut.
Nun jauh di India, di kampung miskin, dimana ada anak anak miskin yang tidak pernah melihat komputer seumur hidupnya dan tidak bisa berbahasa Inggris, ternyata mampu belajar sendiri cara memakai komputer lalu kemudian belajar mandiri hanya dengan akses internet.
Seorang guru computer programming telah melakukan eksperimen di atas hanya dengan meletakkan komputer dengan akses internet dan berbahasa Inggris lalu mengizinkan anak anak kampung miskin itu menggunakannya tanpa diajarkan apapun.
Sekitar delapan jam kemudian, dia menemukan mereka berselancar di internet dan saling mengajari bagaimana caranya. Lalu guru itu berkata, "Mustahil, karena -- Bagaimana mungkin? Mereka tidak tahu apa pun."
Guru itu mengulangi eksperimen tersebut. Dia pergi sejauh 300 mil keluar New Delhi ke desa yang betul-betul terpencil di mana kemungkinan ada insinyur pengembang perangkat lunak lewat situ sangat kecil.
Karena idak ada tempat untuk tinggal, jadi dia meletakkan komputernya di sana, kemudian pergi, lalu kembali setelah beberapa bulan, dan menemukan anak-anak desa telah mampu bermain game di komputer itu.
Ketika anak desa itu melihat guru itu, mereka mengatakan, "Kami mau prosesor yang lebih cepat dan mouse yang lebih baik"
Sambil keheranan Kemudian guru itu bertanya, "Bagaimana mungkin kamu tahu semua ini?"
Anak anak desa itu mengatakan hal yang sangat menarik baginya. Dengan suara yang menjengkelkan, anak desa itu berkata, "Anda telah memberi kami mesin yang bekerja hanya dalam bahasa Inggris, jadi kami harus belajar sendiri bahasa Inggris untuk dapat menggunakannya."
Untuk pertama kalinya, sebagai guru, dia mengaku baru mendengar kata "belajar sendiri" diucapkan secara lugas oleh anak anak.
Di desa terpencil lainnya, dilakukan percobaan serupa namun lebih rumit oleh guru itu. Disediakan beberapa komputer dengan bahan bahan BioTechnology Replikasi DNA yang telah di unduh di dalam komputer tersebut.
Lalu anak anak ditantang untuk belajar BioTechnology. Ketika anak anak itu bertanya, apa itu biotechnology? Guru itu hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan mereka.
Dua bulan kemudian, guru itu datang lagi, ternyata anak anak desa itu telah menguasai 30% biotechnology.
Lalu guru IT ini meminta seorang pemudi berusia 22 tahun yang sama sekali tidak paham biologi apalagi bioteknologi, untuk menemani anak anak ini, tidak untuk mengajarkan apapun, tetapi hanya bertindak seperti seorang nenek yang memberi semangat. Guru itu berpesan, "Berdirilah di belakang mereka. Ketika mereka melakukan apa pun, katakan saja, 'Wow, bagaimana kamu melakukannya? Ada apa di halaman selanjutnya? Wah, ketika saya seumuranmu, saya tidak bisa melakukannya, dstnya.' Kamu tahu kan apa yang nenek-nenek lakukan."
Dalam dua bulan kemudian, anak anak desa terpencil telah menguasai Bio Teknologi, melonjak 50% sama seperti siswa siswa di sekolah kaya di kota besar dengan guru BioTechnology yang terlatih.
Begitupula secara tim, anak anak desa diminta berkelompok, setiap kelompok satu komputer. Lalu mereka diminta membuat riset dengan menggunakan sumber pengetahuan dari internet dan bebas berpindah kelompok jika kelompok lain lebih seru. Ternyata mereka benar benar bisa melakukan riset dengan mengorganisasi belajar mereka sendiri (Self Organized Learning)
Masih banyak rangkaian riset dengan bermacam ukuran dan model yang semuanya menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia adalah pembelajar tangguh sejati, hanya lingkungannyalah yang terlalu banyak menjejalkan dan mengajarkan sehingga anak kehilangan gairah fitrah belajarnya.
Hasil riset ini kemudian dituangkan dalam jurnal jurnal pendidikan masa depan maupun jurnal IT dan membuat banyak pakar kaget dan takjub. Tokoh guru di atas adalah Sugata Mitra, silahkan google pidatonya di TED.
Kesimpulan riset di atas adalah bahwa anak anak ternyata mampu belajar mandiri jika diberi kebebasan dan kesempatan. Guru atau orangtua sebaiknya jangan terlalu banyak mengajar apalagi banyak menguji dan memberi hukuman. Peran guru dan orangtua hanyalah memberikan idea menantang, semangat dan akses kepada sumber pengetahuan.
Jika gairah dan minat belajar anak anak menyala, maka sesungguhnya pendidikan telah berjalan. Anak anak akan belajar atas kemauan sendiri sepanjang hidupnya.
Sesungguhnya jika kita memahami dan mempraktekan bahwa tiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, termasuk fitrah belajar dan bernalar yang hebat, orangtua, guru dan lingkunganlah yang menyimpangannya.
Maka jika konsisten meyakini potensi fitrah, tanpa banyak intervensi dan dominasi seharusnya fitrah belajar dan nalar serta fitrah lainnya dari anak anak akan berbunga indah merekah. Mereka akan belajar dengan bahagia dan bergairah serta relevan dengan dirinya.
Maka di hari menjelang wuquf arofah ini, banyaklah bertasbih bertahmid bertakbir dan beristighfar, jika selama ini masih saja khawatir dan cemas, pesimis atau obsesif bahwa anak tidak mau dan tidak mampu belajar mandiri.
Kekhawatiran dan kecemasan itu sesungguhnya adalah wujud ketidakbersyukuran atas fitrah anak anak kita.
Sesungguhnya yang dibutuhkan anak anak kita bukan diajarkan berbagai macam pengetahuan, yang mereka butuhkan sesungguhnya adalah dibangkitkan gairah fitrah belajarnya dengan idea menantang dan inspirasi hebat serta dorongan semangat sehingga mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya menuju peran Imaroh, memakmurkan bumi Allah SWT.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #66 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #66
‪#‎bukuortu‬ ‪#‎bukupendidik‬
Akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Ray dan Dorothy Moor melakukan penelitian mengenai kecenderungan orang tua menyekolahkan anak lebih awal (early childhood education).
Penelitian mereka menunjukkan bahwa memasukkan anak-anak pada sekolah formal sebelum usia 8-12 tahun bukan hanya tak efektif, tetapi sesungguhnya juga berakibat buruk bagi anak-anak, khususnya anak-anak laki-laki karena keterlambatan kedewasaan mereka
Ivan Illich, tahun 1970, mengritik sistem persekolahan di Amerika yang menurutnya sudah menjadi "agama dunia" bagi perbudakan modern. Tahun 1970, Amerika serikat sedang hebat hebatnya dalam ekonomi.
Dia mengatakan bahwa persekolahan dirancang dengan asumsi bahwa ada rahasia rahasia dari segala sesuatu bagi kehidupan, dan kualitas kehidupan tergantung kepada mengetahui rahasia tersebut. Rahasia itu hanya dapat diketahui dalam urutan kesuksesan dan hanya guru yang dapat secara benar menjelaskan rahasia itu. Seseorang dengan mindset persekolahan meyakini dunia sebagai piramid dari paket terklasifikasi yang hanya dapat diakses untuk mereka yang bergelar layak"
Tahun 1976, pengagas homeschooling (home based education), John Holt mengatakan bahwa, "Bukan berarti saya merasa bahwa sekolah adalah idea yang baik namun salah dijalankan, tetapi sekolah adalah ide yang jelas salah darimana dunia menuju. Adalah ide gila bahwa kita hanya dapat belajar di sebuah tempat dan tidak ada tempat lain untuk belajar selain itu, yang memangkas seluruh sisa hidup"
Filosofi berdirinya pendidikan berbasis rumah adalah “manusia pada dasarnya makhluk belajar dan senang belajar sehingga tidak perlu ditunjukkan bagaimana cara belajar. Yang membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha menyelak, mengatur, atau mengontrolnya”
Karenanya pada tahun 1980, Holt mengatakan, “Saya ingin menjelaskan bahwa saya tidak melihat Homeschooling sebagai jawaban bagi keburukan sekolah. Saya rasa rumah memang menjadi dasar untuk mengeksplorasi dunia yang kita namakan sebagai belajar atau pendidikan. Rumah menjadi tempat terbaik, sebaik apapun sekolah yang ada. Holt kemudian menulis buku tentang Homeschooling, “Teach Your Own”, pada tahun 1981.
Renungan ini tidak ingin membahas sejarah homeschooling, namun memperlihatkan bahwa banyak pakar memprotes keberadaan persekolahan sejak tahun 1960an, dan yang memprotes justru masyarakat dimana persekolahan telah ada selama ratusan tahun pada dirinya, jauh sebelum negeri ini dipaksa mengadopsinya lewat politik etis kolonial dan berlanjut sampai hari ini.
Mereka menyuarakan agar pendidikan kembali ke rumah, kembali ke pangkuan keluarga, agar kita para orangtua segera bertaubat menyadari peran dan amanah terbesarnya untuk mendidik anak anak kita sendiri sesuai fitrahnya, baik fitrah belajar, fitrah keimanan, fitrah bakat dan fitrah perkembangan.
Jadi aneh jika ada yang menjalankan pendidikan berbasis rumah namun masih memakai kurikulum sekolah. Maksudnya apa?
Maka "Teach Your Own" atau ajarlah anakmu sendiri adalah kesimpulan final. Dan ini bukan reaksi atas idea dan praktek buruk persekolahan, namun memang kesejatian peran para orangtua secara ilmiah, alamiah maupun syariah.
Orangtua lah yang paling kenal dan paham karakter dan sifat anak anaknya, merekalah makhluk di muka bumi yang paling tulus mencintai dan dekat dengan anak anak nya. Jangan biarkan perskolahan merampas peran kesejatian kita sebagai orangtua.
Dunia persekolahan bukanlah dunia pendidikan, tetapi dunia pengajaran skill dan knowledge yang pada hari ini bisa diperoleh dimanapun dengan kualitas lebih baik dari di sekolah.
Terkait rahasia pengetahuan dan keterampilan, bahkan hari ini dunia mulai menyadari, bahwa pengetahuan tidak terbatas pada sains dan pengetahuan modern yang diajarkan di sekolah secara seragam, namun justru pada hikmah dan kearifan yang kaya dan banyak beserta penjelasannya, yang ada di komunitas lokal dan keluarga.
Itu adalah pengetahuan lokal canggih dan relevan yang diwariskan turun temurun yang saat ini justru lebih efisien untuk memberi solusi, memberdayakan keluarga dan desa, memelihara keharmonian keluarga dan kelestarian alam dalam kondisi dunia yang tidak menentu.
Pendidikan adalah upaya fokus membangkitkan potensi fitrah, baik potensi fitrah personal maupun potensi fitrah alam, fitrah kearifan lokal dan masyarakatnya dengan agama yang diyakini.
Maka rancanglah Pendidikan Anakmu sendiri sesuai keunikan anakmu, kekhasan keluargamu, kearifan masyarakatmu, keragaman hayati alammu dan keindahan agamamu. Tidak pernah ada kurikulum seragam yang mampu mendidik semua anak dengan baik dan utuh, kecuali dengan hasil yang paling maksimal adalah standar saja dan bahkan kemungkinan banyak merusak.
Mari kita rancang buku orangtua sebagai panduan pendidikan anak anak kita sesuai fitrah mereka. Layaknya petani yang ingin menumbuhkan benih tanamannya dengan baik dan paripurna, maka catat dan tuliskanlah berbagai karakteristik dan keunikan benih dan tanaman itu, lalu temukan rahasia rahasia dan proses untuk mengokohkan akarnya, rahasia dan proses untuk menjulangkan batangnya, rahasia dan proses untuk merimbunkan daunnya sehingga menaungi siapapun dan rahasia memperbanyak bunga dan buahnya sehingga memberi buah rahmat bagi sekitarnya.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #67 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #67
Mengapa semakin banyak orangtua yang beralih ke pendidikan informal? Banyak para orangtua merasa perlu dan butuh untuk mengembalikan peran mendidik anak anak mereka di rumah dan di komunitas mereka sendiri.
Barangkali jawaban sederhananya yaitu adanya fenomena yang entah mengapa kini banyak anak anak kita kelahiran tahun 2000an yang sangat tidak cocok dengan "gaya" sekolah formal yang sama sekali tidak menghargai keunikan anak yang kebanyakan berbakat non akademis..
Barangkali itu hanya fenomena semata, tetapi sesungguhnya idea tentang persekolahan sudah salah sejak awalnya. Sudah banyak menyalahi fitrah sejak diniatkan berdirinya.
Kata "Sekolah" berasal dari bahasa Yunani, "skhole, scola, scolae atau skhola" yang artinya adalah waktu luang. Pendidikan utama di kalangan bangsawan Yunani adalah belajar bersama Orangtua dan Mentor di rumah, sementara Sokole adalah waktu luang sebagai pelajaran tambahan, bukan pendidikan yang utama.
Di Zaman Nabi SAW, ketika Beliau usia dini, pendidikan usia dininya ada di rumah bunda Halimah dan keluarganya di Bani Sa'diyah, dilanjutkan di masa pre aqilbaligh di keluarga besar beliau bersama kakek, paman dan ibu asuhnya. Ketika risalah dimulai, pendidikan atau tarbiyah awal dijalankan juga di rumah, bernama Darul Arqom, yaitu rumahnya Arqom anaknya bapaknya Arqom bukan di tempat belajar menulis atau Kutab.
Metode pendidikan ala Nabi ini kemudian yang digali kembali di abad 20 sampai sekarang dan menjadi fenomena pendidikan unik yang membangkitkan kesadaran dan membebaskan fitrah menuju peran peradaban.
Di Nusantara, kita juga mengenal begitu banyak konsep dan praktek pendidikan hebat peninggalan para ulama, seperti dayah, rangkang, meunasah, surau, pesantren dsbnya yang semua nya berpusat pada pendidikan di keluarga dan di komunitas yang fokus pada keterampilan hidup dan akhlak.
Sayangnya banyak yang tidak menjalankannya, semua mindset orang tentang pendidikan terpaku kepada mindset schooling, yaitu penyeragaman formal dengan hasil distandarkan, perlu gedung dan kurikulum seragam oleh satu satunya otoritas pembuat kurikulum.
"Sekolah" yang cuma waktu luang kemudian menjadi persekolahan formal yang merampas anak anak kita dari rumah rumah kita seperti yang kita lihat hari ini.
Itu dimulai baru dua ratus tahun lalu ketika awal revolusi industri, negara kapitalis memerlukan model Public School dimana negara berkepentingan "mengatur dan mengendalikan serta menyeragamkan" anak dan pemuda, untuk sekedar menjadi administratur dan enjineer yang mengisi pabrik dan perkebunan.
Dalam kacamata kolonialis dan kapitalis, mendidik potensi fitrah bakat, fitrah keimanan dan akhlak apalagi mendidik berbasis keunikan alam dan potensi kearifan lokal adalah kemubadziran yang mengerikan dan tak terampunkan.
Dalam pandangan industrial ini manusia disejajarkan dengan money, machine, methods dan materials. Sementara pemerintah kolonial yang menjajah negeri negeri di Asia dan Afrika juga Amerika Latin membutuhkan "mesin" pencetak administrator dan enjineer untuk menjalankan roda imperium penjajahan mereka. Mesin itu bernama persekolahan.
Maka hari ini persekolahan sesungguhnya sudah salah arah sejak lahirnya dan sudah sangat usang, layaknya Dinosaurus yang akan punah, karena selama 200 tahun lebih telah menjadi penyebab kerusakan kemanusiaan dan kerusakan alam termasuk kearifan keluarga dan masyarakat.
Persekolahan adalah mesin yang dibangun dengan pendekatan anti tuhan yang menolak dan menyalahi fitrah individual dan fitrah komunal. Itu terjadi hampir di seluruh dunia. Beberapa negara moden telah mereformasi sistem persekolahannya agar lebih manusiawi. Negara berkembang masih bingung mendefinisikan makna reformasi pendidikan.
Lihatlah, birokrasi yang menjalankan sistem persekolahan juga tidak kalah usangnya, sangat gemuk, sulit berubah, banyak kepentingan politis, dan cenderung koruptif,
Lembaga birokrat ini sudah sangat sibuk dengan dirinya sendiri. Karenanya sering kita dengar konten buku pelajaran yang tidak sesuai dengan anak anak kita.
Belum lagi terkait zaman, dimana anak anak generasi C memerlukan model pendidikan yang Web 3.0, yaitu belajar dimana saja, sama siapa saja sesuai minat dan bakatnya. Jadi apa masih perlu kurikulum nasional?
Belum lagi terkait potensi alam dan potensi kearifan lokal, dimana dunia mengakui bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan hebat dengan penjelasan rinci disamping sains modern.
Kearifan lokal oleh UNESCO saat ini sudah dianggap dapat menjadi solusi terbaik terhadap permasalahan lokalitas baik pangan, kesehatan dsbnya. Jadi apa masih perlu kurikulum nasional yang cuma menjadikan kearifan lokal sebagai basa basi mulok (muatan lokal)?
Kembali ke lembaga birokrat yang mengatur persekolahan. Banyak guru yang bermetamorfosa menjadi pekerja "profesional: orang gajian dengan target menghabiskan bahan ajar, target ranking sekolah dan jumlah kelulusan.
Kompetensi guru menjadi masalah tak kunjung selesai sampai hari ini. Jadi adakah pendidik yang lebih baik daripada orangtuadi rumah dan orang hebat di jamaah atau di komunitas kita?
Ada memang segelintir guru guru idealis yang bertahan kreatif melawan arus, tetapi mereka sudah pasti makhluk langka, dianggap guru aneh bin anomali dengan bahan ajar tak pernah tuntas, tidak efektif dalam mengajar karena selalu inovatif akibat fokus pada membangkitkan potensi keunikan fitrah masing masing siswanya bukan target yang harus dijejalkan.
Lantas jika demikian bagaimana kita menyerahkan pendidikan anak anak kita kepada lembaga yang mengurus dirinya saja bingung, susah berubah, kejar target kelulusan dstnya.
Kasihan anak anak kita generasi mendatang, hanya menjadi korban keegoisan sistem yang sudah kadaluwarsa dan salah arah sejak berdirinya. Walaupun sebenarnya kitalah yang patut dikasihani karena meninggalkan generasi lemah di belakang kita.
Sesungguhnya pendidikan bukanlah terpaku pada jalur akademis, ada jalur professional berbasis bakat dan ada jalur enterprenuer juga berbasis bakat disertai kemuliaan akhlak.
Pendidikan adalah proses mendampingi anak anak kita membangkitkan fitrah mereka sehingga tumbuh subur paripurna menuju peran peradaban sesuai fitrahnya itu.
Maka wahai ayahbunda dan para pendidik, kembalilah kepada peran fitrah mendidik, rumahmu adalah miniatur peradaban dengan para khalifah cilik di dalamnya, jadikanlah rumah rumahmu dan komunitasmu sebagai dapur dapur peradaban yang akan melahirkan bunga bunga peradaban terbaik yang tumbuh indah merekah harum semerbak mewangi karena dirawat dengan sepenuh cinta sesuai fitrahnya.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬

Renungan Pendidikan #68 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #68
Banyak yang setuju bahwa mendidik anak harus sesuai dengan fitrah anak anaknya, namun banyak juga yang bertanya bagaimana wujud pendidikan berbasis Fitrah dalam keseharian mendidik anak anak.
Pendidikan berbasis fitrah sesungguhnya sangat sederhana. Kita hanya mengupayakan proses yang sealamiah mungkin sesuai fitrah atau kodrat Allah dan menjalaninya sesuai sunnatullah tahap perkembangan manusia.
Selebihnya adalah menyerahkan semua keputusan akhir di tangan Allah SWT, memohon kemudahan dan kekuatan lahir bathin dengan memperbanyak mendekat kepada Allah SWT agar diberikan Qoulan Sadida, yaitu lisan, fikiran, perasaan dan tindakan yang bermakna dan berbobot dalam mendidik.
Jika fitrah adalah jalan sukses, sunnatullah adalah cara sukses, maka doa doa kita adalah kunci sukses bagi anak anak kita di dunia dan di akhirat.
Dalam keseharian pendidikan ini, kita lebih banyak menemani anak anak kita menyadarkan dan membangkitkan semua potensi fitrahnya dengan sebaik baiknya, baik fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan diinteraksikan dengan potensi dan realita yang ada di sekitarnya
Ya menemani! Sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, sebagaimana para petani menemani tanamannya. Syukur atas potensi dan shabar atas proses.
Caranya? Ya tentu bisa dengan memanfaatkan moment dan bisa juga dengan merancang program yang khas untuk tiap anak sesuai tahap perkembangannya (personalized education) yang dituangkan dalam ‪#‎bukuortu‬.
Tujuan akhirnya adalah agar fitrah anak anak kita tumbuh paripurna sehingga memiliki peran peradaban spesifik atas fitrah bakatnya, memilki kemampuan inovasi memakmurkan bumi atas fitrah belajarnya dan memiliki akhlak mulia dan kemampuan memikul beban syariah atas potensi fitrah keimanannya.
Itu semua sebaiknya tepat dicapai ketika anak anak kita menjadi pemuda atau aqilbaligh ketika berusia sekitar usia 15-16 tahun.
Mari kita bahas satu demi satu, "scope of work" di atas.
Pertama, mengapa menemani bukan mengatur atau mengendalikan?
Ketahuilah bahwa prinsip pendidikan berbasis fitrah adalah berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Maka wajib hukumnya meyakini bahwa potensi potensi baik telah terinstal dalam diri anak anak kita sejak lahir bahkan sebelumnya.
Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
Maka bekal pertama dan utama dalam mendidik bukanlah segepok kurikulum baku dan kaku, tetapi adalah keyakinan dan kebersyukuran, ketenangan dan keoptimisan bahwa setiap anak adalah memiliki potensi fitrah yang baik dan ditakdirkan menjadi baik. Hanya orangtua dan lingkungan yang gegabahlah yang banyak merusak dan merubah serta menyimpangkan fitrah anak anak kita.
Kedua, mengapa membangkitkan dan menyadarkan bukan merekayasa dan mengajarkan?
Keyakinan dan kebersyukuran kita pada fitrah sebagaimana pada bagian pertama di atas, membuat kita menyadari bahwa mendidik bukan banyak menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya atau OutSide In.
Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri atau InsideOut.
Misalnya bagi kita, lebih penting membuat anak bergairah belajar dan bernalar daripada menguasai banyak pelajaran, lebih penting membuat mereka cinta alQuran dan buku daripada menggegas bisa membaca dan menghafalnya.
Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya, mendalami dan mengamalkan alQuran secara mandiri sepanjang hidupnya, mengembangkan bakat sampai menjadi peran secara mandiri sepanjang hidupnya.
Fitrah keimanan dibangkitkan bukan dengan menjejalkan pengetahuan agama tetapi dengan keteladanan dan atmosfir mencintai perbuatan shalih. Fitrah belajar dibangkitkan bukan dengan banyak mengajar tetapi dengan idea menantang dan inspirasi seru. Fitrah bakat dibangkitkan bukan dengan menstandarkan output dan cita cita tetapi memperbanyak wawasan dan aktifitas yang sesuai sifat dan keunikan anak anak kita. Semuanya akan indah jika tumbuh sesuai fitrahnya dan hadir pada saatnya.
Anak anak yang banyak diajarkan akan minta diajarkan terus sepanjang hidupnya, anak anak yang banyak didikte dan dikendalikan akan merepotkan orangtua dan sekitarnya sepanjang hidupnya, anak anak yang tidak menjadi dirinya karena obsesi orangtuanya akan tidak punya peran apapun sepanjang hidupnya.
Ketiga, mengapa memanfaatkan momen lebih baik daripada mengatur secara sistematis?
Momen adalah bagian penting dari pendidikan fitrah karena semakin alamiah dan "seamless" (tidak nampak) maka semakin baik.
Sesungguhnya Allah SWT lah pendidik terbaik manusia, Dengan karunia Allah SWT, setiap saat, setiap hari, kita ditakdirkan selalu menjumpai momen-momen seru dalam kehidupan yang kita bisa menggali hikmahnya bersama anak anak kita. Banyak momen "tak sengaja" kemudian jika diamati akan menjadi minat dan keseriusan anak.
Memanfaatkan momen, menggali hikmah yang banyak dari peritiwa keseharian dimana anak anak sangat "curious" akan memberikan kesan mendalam, menginspirasi ayat ayat Kitabullah yang relevan dan melahirkan idea seru menantang untuk didalami dan melahirkan karya manfaat di kemudian hari.
Keempat, selain momen tentu kita boleh membuat program atau proyek yang dirancang bersama anak sesuai keunikan masing masing anak dan masing masing keluarga.
Ada kalanya kita memerlukan proses mendidik yang berbatas waktu, anggaran tertentu, scope tertentu dll agar dapat dievaluasi segera baik portfolio karya, kinerja juga moral sekaligus menggali bakat serta minat anak.
Kita bisa merancang proyek dari yang paling sederhana misalnya proyek membersihkan kamar mandi, proyek go green di rumah, sampai kepada yang menengah dan rumit seperti proyek berkebun dan beternak, proyek fieldtrip ke luar kota, proyek dagang dan magang bersama maestro, proyek ekspedisi, proyek sosial dll.
Dengan begitu, anak anak akan terbuka wawasan dan kita bisa menempatkan anak pada jabatan di proyek sesuai bakatnya dsbnya.
Kelima, mengapa program harus khas untuk tiap anak?
Tentu karena tiap anak itu unik dan khas, "very special limited edition". Ingatlah bahwa, perlakuan yang sama belum tentu direspon sama oleh kakak dan adik. Sampai kapanpun kakak tidak mungkin menjadi adik dan adik tidak akan pernah menjadi kakak.
Karenanya setiap program yang dibuat semestinya relevan dengan keunikan anak dan keunikan keluarga di rumah, jika memungkinkan juga relevan dengan keunikan lokal, sosial dan alam setempat. Para orangtua sebaiknya memiliki kemampuan membuat portfolio dan program. Kami menyebutnya #bukuortu.
Keenam, mengapa harus sesuai tahap perkembangan?
Tahapan ini kami menyebutnya fitrah perkembangan atau sunnatulah pertumbuhan manusia. Ini sangat penting dan tidak boleh gegabah ditabrak,
ibarat menanam tumbuhan maka harus sesuai tahapan dan keperluan tumbuhan. Terlalu banyak air dan nutrisi bisa membuat akar membusuk, salah menempatkan akar pada lahan yang sesuai juga akan membuat gagal berbuah begitupula kelembaban dan temperatur harus sesuai untuk tiap tahap.
Kami membaginya menjadi 0-2 tahun, 2-7 tahun, 7-10 tahun, 10-14 tahun dan di atas 15 tahun . Tiap tahap untuk tiap fitrah memiliki fokus dan metode berbeda. Ini semua telah tuangkan dalam framework pendidikan berbasis fitrah.
Ketujuh, lalu apakah tujuan akhir dari proses pendidikan berbasis fitrah ini?
Tujuan umumnya adalah memastikan bahwa fitrah anak anak kita "right on place" dan tumbuh subur selama mereka menjalani pendidikan.
Tujuan akhir dari proses pendidikan berbasis fitrah adalah agar fitrah anak anak kita berbunga dan berbuah indah, sehingga mampu memikul beban syariah, mampu inovasi melestarikan dan memakmurkan bumu serta memiliki peran peradaban spesifik, tepat ketika mereka memasuki usia aqilbaligh di usia 14-16 tahun.
Kemampuan memikul beban syariah bukan hanya kemampuan menjalankan ibadah shalat dan shaum dengan baik, tetapi juga, khsusnya untuk anak lelaki adalah kemampuan membayar zakat, memberi nafkah dan berjihad.
Anak anak yang telah eksis, memiliki peran peradaban yang jelas, bergairah belajar dan bernalar, selalu berkeinginan menebar rahmat dan manfaat bagi sekitarnya dengan karya dan akhlaknya, maka akan jauh dari berbagai penyimpangan dan perbuatan mubazir yang tidak perlu.
Inilah pentingnya aqil dan baligh dicapai bersamaan oleh proses pendidikan Islam atau pendidikan berbasis fitrah dan akhlak.
Kesimpulannya adalah...
Setelah itu tercapai maka selesailah tugas kita mendidik fitrah anak anak kita, maka tuntaslah amanah merawat dan membangkitkan fitrah mereka.
Itu karena ketika aqilbaligh, anak anak kita telah menjadi pemuda "tulen" yang memiliki peran peradaban yang spesifik yang menebar rahmat dan manfaat atas fitrah bakatnya, memiliki kemampuan inovasi yang membuat bumi semakin hijau dan damai atas fitrah belajar dan nalarnya, memiliki akhlak mulia yang mencerahkan dan menyelesaikan problematika ummatnya atas fitrah keimanannya,
Maka catatlah baik baik bahwa setelah pendidikan fitrah mencapai tujuannya maka kita bisa wafat dengan tenang dan tidak meninggalkan generasi lemah di belakang kita.
Maka ingatlah bahwa jangan pernah tinggalkan generasi yang tahu banyak agama namun miskin karya solutif bagi ummat, banyak aktifitas namun tidak punya peran peradaban spesifik yang bermanfaat, banyak ilmu namun berhenti belajar dan sepi inovasi yang membuat manusia makin sejahtera.
Cuma ada satu jalan, kembalilah kepada fitrah, lalu hadapkanlah wajahmu kepada ajaran yang lurus, kembalilah kepada pendidikan fitrah agar peradaban manusia kembali menjadi indah penuh manfaat dan rahmat.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #69 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #69
Malik Bin Nabi, seorang pemikir Islam dari Aljazair, pernah mengajukan sebuah penjelasan tentang terjadinya penjajahan di dunia ketiga. Beliau berbeda dengan para penganut teori yang hanya menyalahkan penjajah. Ia menerangkan kolonialisme dari sudut kondisi mental kaum terjajah.
Ia mengajukan tesis tentang "Qabiliyyat Al-istl'mar", bahwa rakyat di dunia ketiga rusak binasa oleh kolonialisme bukan karena "canggih"nya mesin penjajahan itu sendiri, tetapi ada "kondisi mental" yang menyediakan syarat syarat cukup terjadinya penjajahan itu.
Tesis itu seperti membenarkan sebuah hadis, "kaifa takuunu yuwalla ilaikum", seperti apa kondisi mentalitas internal kalian, maka begitulah pemimpin kalian. Pemimpin atau problematika suatu bangsa adalah hadiah kolektif bagi karakter karakter dominan yang ada pada bangsa itu..
Jadi jika selama 32 tahun sebuah bangsa dipimpin oleh diktator dan koruptor, itu semata mata karena memang karakter diktator dan koruptor secara dominan ada di semua lini dalam masyarakat bangsa itu. Di level negara, partai, ormas, kampus bahkan keluarga.
Jika secara masif masalah kebakaran hutan terjadi akibat ekspoitasi hutan besar besaran untuk dirampok kayunya, untuk dijadikan jutaan hektar lahan kebun kelapa sawit di atas tanah gambut, untuk dijadikan tambang dll tanpa mempedulikan keseimbangan alam dan ekosistem serta kearifan sekitar, kecuali keserakahan semata, maka bisa jadi sifat dan karakter serakah sudah masif dominan dalam bangsa ini.
Hampir dua puluh tahun terakhir banyak individu diajak berinvestasi untuk perkebunan kelapa sawit, tidak peduli muslim atau non muslim, semangatnya sama, yaitu keuntungan besar tanpa "empati" pada alam dan kearifan lokal. Kebun sawit telah diketahui luas, sangat merusak kesuburan tanah, menyebabkan suhu sekitar menjadi panas, menjadi sarang babi dan tikus, dan tentunya penyebab kebakaran hutan.
Di sisi pendidikan, sangat ironis, ketika juga banyak lembaga pendidikan yang seharusnya menyuarakan gerakan hijau dan damai, justru dibangun menjadi persekolahan bergedung mewah bak vila seluas puluhan hektar, di atas lahan bekas pertanian atau perkebunan atau lereng bukit di desa maupun di daerah pinggiran kota.
Jadi ini sejalan dengan pendapat Ralph Waldo Emerson, bahwa sesungguhnya realitas sosial kehidupan kita atau masalah kehidupan kita sehari hari ada di seputar karakter kita. Intinya adalah bahwa faktor intrinsik, sebelum yang lain-lain, jauh lebih menentukan.
Jadi sebelum menyalahkan kewenangan penguasa atau pelanggaran hukum, mari kita lihat bencana kebakaran hutan dan asap ini sebagai gejala sosial. Secara sosial, manusia dikendalikan oleh budaya yang dibentuk oleh karakter karakter dominan dalam masyarakat itu.
Pertanyaan besarnya adalah apakah memang Allah SWT menciptakan karakter bangsa ini buruk? Sehingga keserakahan begitu masif dan merusak alam serta kemanusiaan? Bukankah setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah atau karakter yang baik? Bukankah setiap kaum memiliki kearifan yang berangkat dari getar getar fitrah?
Lihatlah selama ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, hutan hutan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua dll aman aman saja dan lestari. Bahkan jika ditelusuri, suku suku di Papua, yang sering kita anggap primitif karena kesombongan kita, justru memiliki kearifan secara turun temurun untuk secara ketat melestarikan hutan dan hewan.
Lalu tiba tiba karakter bangsa ini bermetamorfosa mengerikan, menjadi bangsa serakah, rakus, angkuh, merasa pandai padahal merusak kemanusiaan dan menghancurkan kelestarian serta keseimbangan alam. Merasa beriman dan tahu agama, padahal paling rajin mensiasati hukum dan merusak alam serta kearifan lokal.
Darimana karakter buruk ini muncul secara dominan dan masif? Darimana datangnya budaya atau kultur buruk ini, sehingga sifat kebanyakan kita menjadi "tidak merasa bersalah dan tidak tahu malu" padahal telah merusak kelestarian dan kearifan lokal?
Jawabannya sederhana, yaitu pembentuk budaya paling ampuh di dunia. Sistem Pendidikan!
Sistem pendidikan atau sistem persekolahanlah, suka atau tidak, yang paling bertanggungjawab membentuk karakter kolektif atau budaya. Sejak budaya kompetisi tidak sehat, budaya kecurangan yang masif yang dipertontonkan di pusat pusat pendidikan, budaya tidak peduli pada alam dan kearifan karena sekolahnya berdiri ekslusif di bekas lahan perkebunan atau bak vila mewah di lereng gunung dsbnya.
Begitupula prosesnya. Sejak PAUD, anak anak kita dipacu kognitif, kepintaran menjadi berhala paling diagungkan. Empati entah punya siapa.
Semua orang terobsesi, bahwa siapa juara, siapa pintar, siapa paling banyak konten ilmunya maka dialah sang pemenang, dialah layak mendapat pujian. Yang kalah, tidak pintar akan ditindas seumur hidupnya.
Dalam persekolahan yang memuja kecerdasan kognitif itu, kita jumpai rasa dan karsa, kepemimpinan empati bukan hal yang utama dan penting. Anak anak kita tumbuh menjadi pribadi yang keras dan kasar jiwanya, pribadi penumpang yang menjadi beban peradaban.
Mereka menjadi kering kasih sayang, karena direnggut dari kehangatan keluarga hampir seharian bahkan diasramakan sejak sekolah dasar. Mereka hidup elitis dalam dinding beton yang terpisah rasa dan karsanya dari masyarakatnya.
Para psikolog menandai, bahwa banyak anak sekolahan umumnya nampak baik dan santun, mengetahui banyak ilmu moral dan ilmu agama, namun sesungguhnya minim empati, pendendam, menganggap kelompoknya paling mulia atau elitis, tidak senang melihat orang lain juara dan bahagia, melecehkan perempuan dsbnya.
Disimpulkan juga oleh para psikolog bahwa para remaja yang terlibat kasus pembunuhan dan perkosaan, umumnya tidak merasa bersalah. Mereka menangis hanya karena merasakan getirnya dihukum atau dipenjara bukan karena menyesal atas perbuatannya.
Maka tidak heran jika kita sering melihat tersangka kasus korupsi adalah orang orang yang tersekolahkan tinggi, namun dengan santai mempertontonkan rasa tidak bersalahnya dengan senyum simpul aneh mengerikan.
Lalu dimana agama? Bukankah agama seharusnya memberikan self mechanism & kontrol pada pribadi, apa yang tak diberikan Hukum? Nah, bukan salah agamamya, karena lagi lagi dalam sistem persekolahan kita, agama rupanya hanya diukur dari aspek kuantitas pengetahuan kognitif bukan kualitas kesadaran rasa dan kualitas kinerja atau karsa berupa keinginan bertindak memberi solusi
Sesungguhnya, budaya yang dibangun sistem persekolahan, tanpa sadar telah menempatkan diri kita dan keluarga kita benar benar hanya sebagai konsumen dari pabrik dan persekolahan.
Lihatlah tiada aktifitas pendidikan dan aktitifitas produktif di rumah rumah kita. Semua dioutsource ke pabrik dan sekolah. Kita benar benar menjadi konsumen setia pabrik dan perkebunan konglomerasi seperti kelapa sawit dan olahannya. Kita hanya konsumen yang tergantung dari ujung kaki sampai ujung rambut pada industri raksasa yang paling rajin merusak alam.
Jadi siapa sesungguhnya para pembakar hutan dan pencipta asap?
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #70 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #70
Seorang Ibu bercerita bahwa dia telah meninggalkan wasiat untuk tiap anak anaknya. Tentu saja wasiat yang dimaksud bukan daftar hutang atau pembagian warisan, tetapi berisi bait bait doa dan harapan serta pesan yang ditulis dengan sangat puitis, indah dan menggetarkan jiwa yang membacanya.
Dia ingin anak anaknya selalu mengenangnya dan terkenang dengan pesan pesan kerennya dalam wasiat yang dituliskan pada sebuah buku unik yang ada gemboknya. Pokoknya sangat mengharukan dan nampak sangat "keramat".
Dalam buku wasiat yang keramat itu sang ibu diantaranya menulis harapannya agar anaknya kelak secemerlang Muadz bin Jabal ra ketika berdakwah, secakap Mushab bin Umair ra ketika menjadi duta, sepiawai dan sedermawan Abdurrahman bin Auf ra ketika berbisnis, sehebat dan segigih Khalid bin Walid ra ketika memimpin pasukan, dstnya.
Sampai disini barangkali kita merasa idea membuat wasiat seperti itu sangat inspiratif dan ingin menirunya. Sepakat. Namun, mari kita renungkan perlahan, apakah doa dan harapan ibu itu tidak berlebihan dan menyalahi fitrah?
Bayangkan, apakah mungkin keistimewaan dari empat orang atau lebih Sahabat Nabi SAW, dikumpulkan dalam diri satu orang sekaligus?
Sulit membayangkan jika kita menjadi anaknya, betapa beban berat yang dipikulkan oleh obsesi doa sang Ibu, agar menjadi empat orang sahabat Nabi SAW sekaligus.
Memang ibu ini amat berharap semua anaknya menjadi Ulama Besar. Bukankah menjadi ulama bukan hanya dibutuhkan akhlak, skill dan pengetahuan, tetapi juga sifat bakat seorang ulama?
Barangkali kita terlalu bersemangat ingin melahirkan kembali generasi Islam pertama yang unik sehingga kadang doa dan harapan kita menjadi lebay obsesif.
Kita lupa merenungi sirah secara mendalam, bahwa misalnya Nabi SAW tidak pernah menyuruh Mushab bin Umair ra yang berbakat ambassador atau Abdurrahman bin Auf ra yang berbakat bisnis, untuk menjadi panglima perang sekelas Khalid bin Walid yang memang sangat berbakat menjadi panglima perang.
Begitupula sebaliknya, Khalid bin Walid ra, tidak pernah ditunjuk menjadi duta atau mencari dana dakwah, karena memang bukan bakatnya. Seseorang yang menjalani tugas tidak sesuai dengan bakatnya, akan tidak optimal hasilnya.
Mustahil Rasulullah SAW tidak memahami bakat para sahabatnya masing masing, karena sejarah mencatat dengan jelas dan rapih bahwa penugasan tertentu secara konsisten selalu diberikan kepada sahabat tertentu.
Apakah kita lebih hebat dari Rasulullah SAW sehingga berdoa dan berharap anak anak kita bisa memiliki bakat dan kemampuan beberapa orang Sahabat Nabi sekaligus?
Rupanya begitulah pengalaman kita selama menjalani persekolahan, bahwa kehebatan adalah bila menguasai segala hal. Mindset demikian tertanam kuat sulit dihilangkan dalam benak kita.
Walau kita bicara platform Islam, platform alQuran dll tetap saja semua dikonstruksikan atas mindset dan landscape schooling: yang hebat adalah yang paling bisa dan tahu semuanya.
Korbannya ya anak anak kita. Mereka akhirnya tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Dunia pendidikan kini sudah mengkoreksi pandangan itu. Justru jika berharap anak kita bisa menjadi segalanya maka mereka tidak akan pernah menjadi apapun.
Bayangkan jika ada hewan yang berdoa agar dirinya menjadi secepat kuda, selincah ikan, sekuat gajah, seganas harimau, dstnya, maka akan kita jumpai hewan aneh berkaki kuda, berbuntut ikan, berkepala gajah, berbadan singa dstnya. Dengan semua kombinasi itu yang terjadi bukanlah kehebatan tetapi keanehan yang mengerikan.
Sesungguhnya bukan kita yang menciptakan anak anak kita, kita tidak pernah tahu mereka akan menjalani peran apa ketika dewasa kelak. Tugas kita hanyalah menemani membangkitkan peran itu sesuai keunikannya masing masing dan menyempurnakan akhlaknya agar peran itu menjadi manfaat dan menebar rahmat.
Maka syukur dan yakinlah pada fitrah anak anak kita. Tiada seorang manusiapun yang lahir tanpa peran yang digariskan Allah SWT. Bantu dan temani saja anak anak kita dengan shabar, optimis dan rileks dalam menjalani fitrahnya, maka mereka kelak akan mencapai peran peradabannya sebagaimana maksud Allah SWT menciptakannya.
Sesungguhnya setiap manusia telah memiliki Syakilahnya atau jalan panggilan hidupnya masing masing. Maka doakanlah anak anak kita agar sempurna menjalaninya sehingga Allah ridha dan merekapun ridha.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak