Rabu, 03 Februari 2016

Renungan Pendidikan #71

Renungan Pendidikan #71
Ketika malam, ketika anak anak sudah lelap tertidur, hampirilah kamar mereka, duduklah di tepi ranjang mereka, lalu tataplah wajah teduh mereka. Maka perhatikanlah bagaimana tiba tiba muncul rasa cinta mendalam mengalir tak terbendung. Membuncah buncah bahagia, mungkin kita menjadi terharu merasakan betapa melimpahnya cinta kita kepada anak anak kita.
Barangkali juga kita menjadi sangat terharu bahkan menangis, karena terbayang kebodohan, kekasaran, ketidakshabaran kita, ketidakbersyukuran kita, obsesi lebay kita dalam mendidik mereka. Apalagi jika saat ini anak kita sudah tidak lagi bersama kita. Mungkin kita peluk bajunya, bantalnya atau selimutnya dsbnya dan menangis sepuasnya meratapi diri kita.
Dua tema ego itu biasanya yang otomatis hadir ketika kita melihat anak anak kita sedang tidur atau ketika kita menatap ranjang kamar tidurnya yang kosong. Tema yang berangkat dari ego "memiliki" kita terhadap anak anak kita.
Lalu kini coba lepas ego kita, ulangi lagi duduk di tepi ranjang mereka, perhatikan seksama nafas anak anak kita keluar masuk sehingga dada mereka nampak naik dan turun, naik turun berulang ulang. Terus perhatikan sampai kita merasakan kehidupan mereka, merasakan bahwa mereka hidup dan punya tujuan keberadaan di dunia.
Ya mereka bernafas, mereka hidup, maka pasti mereka hidup untuk sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tidak mungkin sia sia, sesuatu yang menjadi "purpose" Sang Maha Pencipta. Kita tidak pernah tahu apa tujuan penciptaan anak kita karena pada galibnya bukan kita yang menciptakan. Kita memerlukan waktu panjang untuk menemukan purpose penciptaan mereka maupun purpose mendidik mereka.
Ketika kita melepaskan ego memiliki, maka kini kita berada dalam kesadaran penuh bahwa anak kita sesungguhnga bukan milik kita, kita hanya dititipi oleh Zat Yang Maha Hebat, Penguasa Alam Semesta.
Bisa jadi anak anak kita lahir tanpa perencanaan kita, tapi jangan khawatir Allah SWT pasti punya rencana atas diri mereka.
Maka mendidik anak bukanlah tentang ego kita termasuk ego mencintai dan dicintai, bukanlah tentang ego memiliki dan dimiliki, bukanlah tentang obsesi obsesi kita, bukanlah tentang tafsir kita atas manusia ideal yang harus diwujudkan pada anak anak kita dstnya tetapi tentang bagaimana agar anak anak kita tumbuh dan berperan sesuai "purpose" penciptaannya, sesuai alasan keberadaannya di muka bumi yang merupakan kehendak Allah. Maka temukanlah "purpose penciptaan"nya dengan sungguh sungguh.
Tiada perbuatan manusia yang Allah paling ridha kecuali jika manusia itu hidup sesuai maksud Allah menciptakannya, sesuai purpose yang Allah kehendaki. Bukan hanya purpose umum untuk beribadah, purpose untuk memakmurkan bumi, purpose untuk memberi manfaat bagi zamannya tetapi juga purpose khusus yaitu menjalani peran unik sesuai keistimewaan dan kekhasannya yang telah Allah takdirkan untuk membuat peradaban manusia yang lebih baik.
Yakinlah bahwa tiap anak pasti sangat berharga bagi alamnya, sangat berharga bagi zamannya, sangat berharga bagi masyarakatnya dstnya, karenanya temukan kekhasan anak anak kita agar memberi nilai bagi dirinya, alamnya dan masyarakatnya.
Maka lepaslah ego menguasai dan berhentilah dari rutinitas kosong dan palsu tanpa makna, berhentilah mendidik tanpa mendalami purpose. Banyak diantara kita menjalani pendidikan anak dengan mengikuti arus semata, hanya hadir semata namun tidak menyadari dan menjalani hidup dan kehidupan sesungguhnya.
Setiap hari banyak orang bergerak robotik, bangun sebelum subuh, beribadah, membangunkan anak, membuat sarapan anak, menyiapkan seragam anak, mengantar anak ke sekolah, menghabiskan waktu menunggu, menjemput pulang, antar jemput les, memeriksa PR, menyuruh tidur, dstnya. Besok berulang kembali, begitu seterusnya sampai anak tamat SD.
Setelah itu, berlanjut menyiapkan anak masuk Sekolah Menengah atau pesantren atau boarding school, lalu menyiapkan anak masuk kuliah, wisuda, mencarikan pekerjaan dstnya. Lalu anak anak kita bekerja, mencicil rumah dan kendaraan sebagaimana umumnya kebanyakan kita sampai menunggu pensiun atau wafat dan uzur.
Pola yang sama, begitu terus sejak dua sampai tiga generasi urban yang lalu. Pola ini memicu masalah global yaitu kekosongan spiritual baik pada orang relijius maupun orang sekuler, agamis maupun atheis, umumnya sama saja. Apakah anak kita harus menjalani hidup tanpa purpose penciptaan sebagaimana generasi terjajah sebelumnya?
Kita habiskan banyak waktu yang kita sebut dengan pendidikan, tanpa pernah menggali mendalam purpose penciptaan anak anak kita pada alamnya dan pada zamannya. Kita ikuti arus ambisi menyiapkan professor sejak taman kanak kanak. Pengegasan yang merusak fitrah penciptaan apalagi tujuan penciptaan.
Kita menjalani pendidikan tanpa pernah melepas ego kita bahwa mendidik adalah bukan tentang kita atau tentang anak anak kita, tetapi tentang membuat dunia menjadi semakin baik, membuat peradaban lebih damai dan hijau.
Kita berpacu pada pacuan yang tidak menuju kemana mana. Kita ikuti arus tanpa pernah mempertanyakan apakah arus ini menuju purpose penciptaan atau ego orangtua agar anaknya terlihat shalih dan pandai atau ego negara agar memenuhi target kelulusan dan industri? Apakah status shalih dan pandai serta jumlah kelulusan serta serapan industri adalah tujuan penciptaan?
Ketahuilah bahwa sesungguhnya tujuan pendidikan terbaik adalah selaras dengan purpose penciptaan, selaras dengan tujuan penciptaan spesifik tiap anak anak kita, selaras dengan tujuan keberadaan manusia di muka bumi, yaitu membuat bumi semakin hijau dan damai.
Maka lepaskanlah ego sejak hari ini, hadapkanlah wajah kita pada agama yang lurus, tetaplah pada fitrah Allah, yang menciptakan manusia dari fitrah itu. Inilah purpose penciptaan.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #72 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #72
Sebuah peradaban besar sesungguhnya dimulai dari sebuah pendidikan peradaban.
Pendidikan peradaban yang bisa menegakkan peradaban itu tentu harus dikonstruksikan di atas platform nilai nilai yang diyakini peradaban itu.
Jika pendidikan Islam tidak dikonstruksikan di atas platform yang dibangun dari nilai nilai Islam, maka hasilnya bukanlah peradaban Islam, bukan peradaban apapun bahkan menuai masalah yang sama dengan platform yang tidak sesuai itu.
Justru itulah yang terjadi, walau banyak yang tak menyadarinya. Sungguh mengherankan mengapa umumnya komunitas Muslim mendirikan pendidikan Islam, namun dibangun di atas platform "Schooling" yang tidak punya kaitan filosofis dan sosio historis dengan Islam?
Konten nya memang konten Islam, karakter yang ingin dibangun memang karakter Islam, namun sayangnya platform tempat berdiri nya bukan platform Islam tetapi platform Schooling.
Ibarat benih bunga yang baik, ditanam dengan nilai nilai yang baik, namun semua habitat dan ekosisistem serta prosesnya tidak berangkat dari karakteristik kebaikan bunga itu. Sudah bisa dibayangkan hasilnya.
Ingatlah bahwa ada banyak filosofi anti-tuhan di balik sejarah lahirnya schooling yang sangat bertentangan dengan aqidah maupun syariah Islam. Kita tahu betul schooling pada masa lampau adalah sistem yang dibawa kolonial penjajah dengan maksud "melestarikan mesin penjajah".
Sistem schooling, dahulu, sangat ditentang oleh para ulama dan tokoh pendidikan nasional. Bahkan inilah penyebab matinya banyak pendidikan Islam tradisional dahulu yang diwariskan oleh ulama Islam, seperti Surau, Dayah, Rankang, Meunasah, Pesantren dll.
Pesantren? Ya, pesantren hari ini umumnya adalah adopsi dari model Schooling, bahkan sudah menjelma menjadi Boarding School yang dua dekade ini mulai menjadi sorotan serius di Inggris, negara tertua penganut boarding school, akibat banyaknya penyimpangan psikologis dan sosial dari model boarding ini.
Di kala dunia, menyadari kekeliruan model schooling ini dan berusaha sekuatnya mereformasinya, justru kita merasa nyaman dengan sistem schooling ini dan menjadikannya platform pendidikan Islam.
Mari kita renungkan secara sederhana beberapa masalah berikut.
Pertama adalah masalah kemandirian dan kedewasaan ketika berusia AqilBaligh. Platform scohooling dirancang untuk tidak menyiapkan generasi aqilbaligh, bahkan memperlambat kedewasaan dengan memperpanjang masa pembocahan (infantization)..
Siapa yang mengarang angka enam untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah sehingga total menjadi duablelas tahun. Alasannya adalah mengikuti pemerintah, lalu pertanyaannya pemerintah ikut siapa? Ikut penjajah? Ikut global? Ketahuilah bahwa global belum tentu universal.
Banyak psikolog yang berfikiran terbuka menyuruh sistem schooling untuk menyelaraskan tahapan pendidikannya terhadap riset terbaru perkembangan manusia yang lebih manusiawi.
Apakah bermasalah? Ya tentu sangat bermasalah secara syariah dan sosial.
Coba perhatikan, andai anak komunitas Muslimin mulai masuk pendidikan dasar di usia 7 tahun, maka akan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di usia 19 tahun.
Secara syariah, usia 19 tahun sudah aqilbaligh, bahkan sejak sebelumnya sudah aqilbaligh di usia 14-15 tahun, yang artinya sudah memikul beban syariah. bukan hanya dalam ibadah ritual tetapi juga dalam zakat, nafkah bahkan jihad.
Sudah diketahui luas bahwa platform schooling sama sekali tidak mempersiapkan pemuda tamat SMA untuk mandiri dan bahkan belum dianggap dewasa dalam sistem kapitalis maupun sosialis. Dalam platform schooling, dewasa dan kemandirian selalu diukur bila sudah sarjana, bukan aqilbaligh.
Memang ada program vokasional seperti SMK, namun siapapun tahu bahwa SMK hanya ditujukan mencetak tenaga kerja buruh kelas operator. Bisa bekerja sebagai operator bahkan tamat sarjana bukanlah indikator kedewasaan dan kemandirian menurut Syariah Islam.
Bayangkan pemuda Muslim yang sudah aqilbaligh, alias wajib memikul beban syariah di usia 14-15 tahun harus terus menjadi bocah sampai usia 24-25 tahun. Pemuda Muslim yang sudah wajib zakat dan menafkahi dirinya sejak usia 14-15 ini, terus dibocahkan sampai selesai sarjana.
Infantization atau pembocahan panjang ini sudah menjadi penyakit global generasi muda di seluruh dunia dan dituduh sebagai penyebab kerusakan, kenakalan dan penyimpangan pemuda.
Maka jangan heran jika pemuda muslim punya masalah sama dengan pemuda lainnya, karena sama sama dididik dalam platform schooling, yaitu terlambat mandiri dan dewasa!
Maka jangan heran pula jika ada pemuda penghafal alQuran yang sarjana namun menganggur tidak mampu bekerja apalagi menciptakan pekerjaan. Salah platform!
Apa yang pernah terjadi pada peradaban Islam dahulu, ketika bertebaran pemuda pemuda Islam belasan tahun sudah mandiri dan punya peran peradaban, namun kini hanya dongeng pengantar tidur anak anak Muslim. Bukan salah mereka, tapi salah platform.
Mengapa komunitas Muslimin tidak membangun pendidikan Islam di atas plafform Islam sendiri?
Kedua adalah masalah pendidikan usia dini Islam di komunitas Muslim.
Mari kita renungkan ada berapa banyak PAUD Muslim yang benar benar mengikuti Sirah Nabi SAW dalam pendidikannya. Apakah mereka paham hal hal yang penting dalam pendidikan usia dini Islam di komunitas Muslim?
Apakah Bahasa Ibu yang fasih, Psikomotorik di Alam, Belajar di Alam, Kearifan melalui kisah kisah kepahlawanan, menguatkan executive functioning atau leadership dengan berkebun atau beternak menjadi kurikulum wajib di PAUD?
Platform schooling pada pendidikan usia dini, menyebabkan pendidikan usia dini Islampun terjebak untuk menggegas anak anak Muslim kepada hal hal kognitif, seperti menghafal formal dengan teks dan calistung. Sebagian pendiri PAUD Islam masih percaya kepada tahayul psikolog barat tentang Golden Age 5 tahun pertama dimana anak balita harus digegas aspek kognitif.
Jadi walau namanya pendidikan anak usia dini Islam, jangan heran jika yang dilakukan adalah praktek schooling yang memberhalakan aspek kognitif, dimana anak anak komunitas Muslim tidak utuh menjadi usia dini. Lihatlah lomba lomba dan toga toga wisuda dikenalkan sejak anak, bukankah ini tradisi schooling yang berpotensi merusak fitrah?
Ingat bahwa usia dini adalah usia terbaik mendidik aqidah, bahasa Ibu yang utuh, sensomotorik dan psikomotorik di alam terbuka, kisah kisah imajinatif kepahlawanan dan penguatan tauhid dstnya.
Mengapa komunitas Muslimin tidak membangun pendidikan Islam di atas plafform Islam sendiri?
Ketiga adalah masalah metode atau Manhaj.
Metode Schooling berangkat dari filosofi yang menolak adanya fitrah manusia. Landasannya adalah filsuf barat yang anti-tuhan, yang menolak bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dan menolak bahwa Tuhan telah membekali manusia dengan berbagai potensi yang kita sebut fitrah.
Dari filsafat anti-tuhan lahirlah ide ide bahwa manusia kertas kosong, piring kosong, selalu lemah dan tak berdaya, berasal dari evolusi, tidak punya kesadaran, tidak tahu moral dan tuhan, moral dan tuhan adalah pengalaman dstnya.
Idea inilah yang diserap oleh Schooling menjadi metode mendidiknya. Maka kurikulum yang dirancang adalah kurikulum penjejalan, pengisian, pemaksaan dstnya. Kurikulum adalah segepok prosedur serinci mungkin untuk menstandarkan manusia agar beradab, karena mereka dianggap lahir tak bermoral dan tak beradab bahkan idiot sempurna.
Metode pendidikan Islam, seharusnya jauh berbeda. Islam berangkat dari filosofi atau konsepsi bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. Manusia lahir fitrah atau suci, bukan dalam makna seperti kertas kosong yang bisa diisi seenaknya, bukan!
Tetapi fitrah dalam makna bahwa manusia lahir sudah terinstal fitrah keimanan (spiritual dan moral), fitrah belajar dan nalar, fitrah bakat dan peran, fitrah estetika, fitrah sosial, fitrah gender dstnya.
Maka metode pendidikan Islam adalah metode penyadaran dan pembangkitkan potensi (inside out) bukanlah metode penjejalan dan pembiasaan (outside in) ala behaviorisme dengan setumpuk prosedur dan insentif (stick n carrot), bukan pula kecurigaan penuh dan upaya menambal kekurangan ala psikologi negatif dsbnya.
Rusaknya dunia adalah krn kehilangan "wisdom" dalam semua hal, kehilangan hati dan perasaan dalam proses. Itu semua karena dunia modern tidak pernah berangkat dari penyadaran kecuali prosedur pemaksan dan penjejalan.
Dalam modernisme, semua anak manusia selalu dipandang sbg mesin yg bisa disetel dengan serenceng peraturan dan insentif, selalu dipandang sbg ember bocor yang perlu diisi dengan seabrek konten. Walhasil manusia dan dunia akhirnya kehilangan kemanusiaan.
Sampai disini barangkali kita mulai menyadari dan memahami, mengapa misalnya Perumus Manhaj Tarbiyah seperti Hasan alBanna tidak mendirikan sekolah formal. Karena pendidikan Islam harus tegak di atas Platformnya sendiri, bukan platform schooling.
Maka sekali lagi, pertanyaan ini hendaknya menjadi renungan bersama, mengapa komunitas Muslimin tidak membangun pendidikan Islam di atas plafform Islam sendiri?
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #73 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #73
Ayat Allah itu ada di Kitabullah (alQuran dan alHadits) , kita menyebutnya ayatul Qouliyah. Diberikan Allah kepada NabiNya melalui wahyu. Kemudian oleh Nabi disampaikan kepada Sahabat dan pengikutnya hingga sampailah kepada kita.
Ayat Allah itu juga ada di Alam Semesta dan Kehidupan (Nature Sains dan Sosial Sains), kita menyebutnya ayatul Kauniyah. Siapapun akan diberikan ayat ini sepanjang melakukan mubasyaroh (penelitian) yang mendalam.
Kedua tipologi ayat ini, Qouliyah dan Kauniyah adalah ilmu Allah yang diberikan kepada manusia dalam menjalani perannya sbg Khalifah di muka bumi. Keduanya saling terkait, ayat Qouliyah menjadi isyarat dan semangat serta etika untuk meneliti ayat Kauniyah, sementara Kauniyah menjadi burhan atau bukti serta implementasi bagi kebenaran ayat Qouliyah.
Lalu agar kedua ayat ini bisa digapai dan dimanfaatkan manusia dalam menjalani perannya sbg khalifah, maka Allah juga ciptakan pada diri manusia yaitu Fitrah, yang merupakan keadaan default manusia sejak lahir.
Fitrah sesungguhnya juga ayat ayat Allah dalam diri manusia, “Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran” QS 41:53
Karenanya dari sisi pemahaman ayat Qouliyah, ayat Kauniyah dan Fitrah, maka dapat dengan sederhana dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses interaksi fitrah anak anak kita (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat) dengan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah agar anak kita kelak menjadi khalifah yang mampu melestarikan alam dan memimpin/mendamaikan kehidupan manusia dengan semulia2 akhlak sesuai potensi fitrah yang Allah karuniakan.
Inilah yang tak terbayangkan oleh Malaikat ketika Allah menciptakan manusia, yang Malaikat duga akan berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Karenanya isu merawat alam dan membuat damai kehidupan manusia adalah isu terpenting peradaban manusia di muka bumi. Pendidikan fitrah yang berinteraksi dengan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyahlah jawabannya.
Masalahnya adalah ketika kita menjadikan ayat Qouliyah dan atau ayat Kauniyah, sebagai konten belaka, maka lahirlah generasi yang paham dan hafal ayat Qouliyah (hafizh) namun tidak punya manfaat bagi alam dan kehidupan bahkan tanpa sadar merusaknya, sementara juga sama saja, lahir juga generasi yang paham dan hafal ayat Kauniyah (saintist) namun tidak memiliki kemauan merawat dan melestarikan bumi serta membawa manusia dalam kedamaian karena buruknya akhlak dan agamanya.
Padahal peradaban Islam sepanjang sejarah, kita jumpai pemuda pemuda yang ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah bukan cuma di kepala saja, tetapi berinteraksi dengan fitrah nya sehingga terimplementasi menjadi karya karya indah yang melahirkan peradaban penebar rahmat dan manfaat bagi kemanusiaan dan alam semesta.
Matinya ruh atau spirit pendidikan yang memadukan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah untuk melahirkan budaya dan tradisi tradisi menemukan karya karya solutif bagi peradaban dimulai sejak revolusi industri dimulai.
Bapak Revolusi industri, Adam Smith merancang sistem yang dia sangat paham bahwa sistem pabrik yang dibangunnya mampu merendahkan manusia sampai derajat bodoh yang paling rendah. Itu semua karena bekerja dan belajar hanya rutinitas semata menunggu bayaran atau hasil ujian tanpa spirit dan gairah memberi manfaat.
Spirit pendidikan yang menginteraksikan fitrah dengan ayat Qouliyah serta ayat Kauniyah redup selama masa penjajahan kolonial, semua anak generasi Muslim, melalui sistem persekolahan modern, dipacu pada penjejalan ayat Kauniyah semata, lahir generasi pandai sains namun tak berakhlak mulia alias tak berkarakter kinerja dan tak berkarakter moral. Ayat Qouliyah terpinggirkan hanya menjadi siraman ruhani dan kajian sufi kebatinan atau obrolan kebencian.
Sistem persekolahan modern kemudian semakin memburuk ketika kemerdekaan, dari spirit tradisi meneliti sains (ayat Kauniyah) saja kemudian melorot lagi hanya tinggal tradisi menghafal rumus rumus dan cara cara cepat mengerjakan soal untuk ujian. Orientasi ijasah dan gelar pun menambah parah penyimpangan fitrah.
Sementara sejak tahun 80an persekolahan menjadi bisnis menarik. Kecerdasan kognitif menjadi mata uang paling laris dijajakan sekolah sekolah. Ini berlangsung sejak Indonesia merdeka sampai sekarang. Anak anak berIQ tinggi beruntung bisa "lulus" sistem konten ini, sebagian besar sisanya jarang yang beruntung "lolos" dari konsep diri yang buruk.
Lalu akibat fitrah tak berperan, kini pada anak anak kita kemudian muncul berbagai kerusakan moral, pergaulan yang rusak, penyimpangan seksual, penindasan dan pelecehan. Jika kita kliping semua kenakalan siswa sekolah barangkali ada ribuan banyaknya setiap tahun.
Orangtua panik dan cemas. Lalu lahir pendidikan Islam sebagai alternatif sejak tahun 90an. Sebenarnya bukan pendidikan lebih tepatnya persekolahan. Sebuah upaya yang patut dihargai namun sayangnya lahir karena reaksi yang masih dalam mindset dan platform yang sama dengan persekolahan modern, yaitu memberhalakan konten akademis.
Ada dua model persekolahan Islam, yang pertama memadukan konten akademis sains dan akademis agama sehingga menjadi akumulasi. Yang kedua, sama sekali lari dari konten sains, fokus pada konten agama dalam hal ini konten alQuran dan alHadits. Padahal konten tidak cukup, harus ada interaksi fitrah dengan keduanya, yaitu ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah sejak awal pendidikan dimulai, bukan salah satunya dan menunda lainnya.
Kedua model persekolahan ini dilakukan tanpa menginteraksikan fitrah, just content. Maka akhlak mulia sulit terbangun. Fatsun pendidikannya adalah jika content agama penuh maka akan berakhlak mulia dengan sendirinya. Mirip dengan persekolahan modern yang menganut aliran sesat bahwa jika konten sains penuh di kepala maka akan kreatif dan inovatif dengan sendirinya.
Mari kita kembali ke pendidikan sejati, yaitu pendidikan yang tidak memberhalakan konten baik konten agama maupun konten sains, tetapi pendidikan yang menginteraksikan fitrah anak anak kita dengan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah agar gairah gairah beriman, gairah belajar dan bernalar, gairah menjalani peran atas bakat akan terus menyala menjadi spirit menebar rahmat dan manfaat bagi kelestarian alam dan kedamaian kehidupan manusia, bagi peradaban manusia di muka bumi yang Allah kehendaki.
Pendidikan sejati akan membangkitkan semua gairah fitrah anak anak kita untuk membawa dan mengimplementasi kebenaran ayat ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah.
Gairah fitrah mereka akan melakukan pembacaan bathin dan empiris atas ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah melalui pembacaan hukum gerak sejarah, melalui pembacaan hukum ketetapan alam semesta dan melalui pembacaan hukum dinamika kehidupan manusia.
Contohnya ketika menjadikan surat alMaun sebagai tema membangkitkan fitrah keimanan, fitrah belajar dan nalar serta fitrah bakat, maka ajak anak anak kita menyaksikan kemiskinan secara langsung, bertemu dengan anak anak dhuafa sebagai realita sosialnya dsbnya .
Tugas kita hanyalah mengulang-ulang pesan ayat secara kuat untuk membangkitkan gairah fitrah serta kesadarannya, bahwa jika cinta pada Allah dan RasulNya tidak sekedar sholat tetapi juga memikirkan solusi bagi kaum dhuafa.
Pendidik dan orangtua tentu bisa berkreasi menciptakan keteladanan serta suasana dan atmosfir yang berkesan kuat.
Menemukan Allah di kalangan kaum tertindas. Tantang anak untuk berfikir kritis (critical thinking dll), mensketsa solusi (innovation) bagi kaum dhuafa sebagai bagian penting keimanan, membrowsing data dan informasi kemiskinan ibukota dan penyebabnya untuk kecakapan literasi informasinya, lalu jangan lupa amati dimana kecenderungan fitrah bakatnya dalam hal pengentasan kemiskinan. dsbnya, Sederhana.
Jadi hafal surat alMaun dan hafal formula sains adalah efek dari keberkesanan, intinya adalah penyadaran semua firahnya. Model pendidikan berbasis fitrah dan akhlak seperti ini akan membekas seumur hidupnya. Anak anak kita akan benar benar siap memikul syariah dan misi penciptaannya sebagai khalifah yang memperbaiki peradaban di muka bumi.
Gairah fitrah mereka yang telah berinteraksi dengan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah, juga akan menggerakan fikiran, perasaan dan kaki mereka untuk melalang buana mendaki puncak gunung dan menembus perut bumi, menyeberangi samudra dan menyelami lautan, meresapi berbagai keanekaragaman hayati, mendengarkan begitu banyak ragam kearifan kehidupan manusia lalu menemukan solusi Qouliyah dan Kauniyah, sehingga mereka mampu menebar rahmat dan manfaat, memberi karya solutif dan akhlak mulia bagi peradaban manusia agar lebih hijau dan damai.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #74 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #74
Banyak orangtua mengeluh, mengapa anaknya yang dulu nampak begitu patuh, shalih bahkan hafal beberapa juz alQuran tiba tiba ketika remaja menjadi susah diatur, sering lari dari rumah, mengikut kelakuan bodoh teman2nya, mencoba merokok dll. Padahal semua tips parenting sudah dijalankan, komunikasi cukup intens, kasih sayang tercurah dstnya.
Masa remaja ini sering disebut dengan masa chaos, masa turbulensi, masa paling kacau sejak 200 tahun terakhir. Bahkan bisa jadi ketika remaja nampak baik baik saja, namun "kenakalannya" seolah terpendam dan baru nampak ketika sudah dewasa dan berkeluarga atau ketika memiliki tanggungjawab sosial.
Ada apa dengan masa Remaja? Lalu apa yang salah?
Sebuah jurnal psikologi tahun 2012, memuat wawancara dengan psikolog Robert Epstein berkenaan dengan bukunya yaitu "The case against adolescence: Rediscovering the adult in every teen".
Epstein mengungkapkan bahwa remaja sebenarnya jauh lebih kompeten daripada yang kita duga, dan sebagian besar dari masalah mereka berasal dari pembatasan penempatan sosial pada mereka
Epstein percaya bahwa remaja itu sendiri akan lebih baik jika kita tidak mengklasifikasikan mereka sebagai remaja.
Epstein menolak bukan keremajaan nya tapi masa remaja sebagai kelas sosial, yaitu konstruksi budaya yang menghasilkan orang-orang yang berusia 13-19 tahun namun banyak masalah seperti minum alkohol, asap rokok, penyalahgunaan berbagai obat-obatan, gangguan makan, kontrak penyakit seksual, dan hamil.
Mereka membawa senjata, bergabung dengan geng, dan komitmen dengan segala macam kejahatan. Mereka mengambil bagian dari budaya teman teman yang ceroboh. Mereka marah, melakukan kekerasan, depresi, dan bunuh diri. Tidak semua dari mereka, tentu saja.
Masalah dengan remaja, dia menegaskan, adalah bahwa mereka merupakan orang-orang yang sebenarnya sangat mampu namun diperlakukan seolah-olah mereka anak-anak.
Padahal sejarah manusia telah menganggap remaja sebagai orang dewasa, meskipun mereka adalah orang-orang muda. Dalam Yudaisme, misalnya, Bar Mitzvah selama berabad-abad menandai usia 13 tahun sebagai usia ketika anak laki-laki menjadi seorang pria dewasa, dengan hak dan tanggung jawab penuh.
Islam juga demikian, anak anak yang sudah baligh usia 12-14 tahun, maka dianggap sudah dewasa dan wajib memikul syariah termasuk nafkah dan jihad.
Konsepsi saat ini remaja sebagai perpanjangan dari masa kanak-kanak, konsep ini semakin dipakai dan diterapkan di seluruh dunia, berkembang sejak abad ke-20.
Menurut Dr. Sarlito Wirawan Sarwono “Konsep anak sudah dikenal sejak abad ke-13, Remaja baru dikenal secara meluas dan mendalam pada awal abad ke-20, namun tulisan-tulisan klasik yang menunjukkan indikasi tentang remaja sudah ada sejak jaman filsuf Aristoteles (384-322 SM) dan J.J. Rousseau dalam bukunya Emile (1762)”,
Tren Remaja dimulai seratus tahun yang lalu dan sekarang tren memanjangkan masa kanak-kanak kepada usia 20-an . Usia di mana orang Amerika mencapai dewasa meningkat di usia 30an yaitu baru dimulai pada usia 20an - dan kebanyakan orang Amerika sekarang percaya seseorang tidak dewasa sampai usia 26 .
Seluruh budaya bekerja sama dalam "artifisial/buatan" memperpanjang masa kanak-kanak, terutama melalui sistem sekolah dan pembatasan tenaga kerja.
Kedua sistem berkembang bersama di abad ke-19 akhir ; para pendukung hukum "wajib pendidikan" juga mendorong undang-undang pekerja anak, membatasi cara orang-orang muda bisa bekerja, sebagian dengan alasan melindungi mereka dari pelanggaran pabrik-pabrik baru. Sistem peradilan anak muncul tiba-tiba pada waktu yang sama .
Semua sistem ini mengisolasi remaja dari orang dewasa, seringkali dengan cara yang bermasalah. Sistem pendidikan saat ini diciptakan pada 1800-an dan awal 1900-an , dan dimodelkan setelah berdirinya pabrik2 baru revolusi industri.
Sistem telah mencoba mencetak lebih banyak remaja sementara melebarkan masa sekolah sampai usia 24 atau 25 untuk beberapa segmen populasi. Secara umum, pendekatan semacam ini masih mencerminkan pemikiran pabrik.
Mari kita ubah model pendidikan kita sekarang dan lakukan secara efisien (do the right thing), baik di kelas maupun di tradisi dan kebiasaan belajar di komunitas dan di rumah.
Sayangnya kebanyakan orang belajar di ruang ruang kelas persekolahan kemudian mereka membenci pendidikan selama sisa hidup mereka. Skripsi dan thesis adalah karya terakhir dan satu satunya sepanjang hidupnya.
Sekolah negeri (negara), dibentuk untuk memasok pabrik dengan tenaga kerja terampil, dengan pendidikan yang digegas dalam tahun yang relatif pendek .
Sistem sekolah pabrik tidak berjalan di dunia modern, karena dua tahun setelah lulus, apapun yang kita pelajari sudah basi. Kita perlu menyebarkan luaskan pendidikan seumur hidup. Memasuki masa pre aqilbaligh atau pre pemuda di usia 12-14 tahun, pendidikan perlu dikombinasikan dengan cara yang menarik dan kreatif dengan kompetensi professional atau bisnis. Sistem sekolah pabrik tidak lagi masuk akal.
Bayangkan apa yang mereka akan merasa seperti - atau pikirkan kembali bagaimana rasanya ketika - tubuh dan pikiran yang memberitahu anda sudah dewasa, sementara orang dewasa di sekitar anda tetap bersikeras bhw anda seorang anak.
Infantilization (pembocahan) ini membuat banyak orang muda marah atau tertekan, dengan penderitaan mereka membawa lebih ke keluarga mereka dan berkontribusi terhadap tingginya angka perceraian. Sulit untuk menjaga pernikahan bersama-sama ketika ada konflik konstan dengan remaja.
Apa bagian terburuk dari cara kita saat kita memperlakukan remaja ?
Hubungan permusuhan antara orang tua dan anak mengerikan ; sakit kedua orang tua dan orang muda . Ini air mata beberapa orang yang tercabik cabik ; mereka tidak mengerti mengapa itu terjadi dan tidak bisa keluar dari itu.
Mereka tidak menyadari bahwa mereka terjebak dalam mesin yang mendorong mereka terpisah dari anak keturunanannya - dan itu tidak perlu terjadi.
Apa yang bisa dilakukan ?
Epstein percaya bahwa orang-orang muda harus memiliki pilihan - pilihan yang lebih untuk bekerja, menikah, hak milik sendiri, menandatangani kontrak, memulai bisnis, membuat keputusan tentang perawatan kesehatan, hidup sendiri - hak - hak istimewa, atau tanggung jawab yang orang dewasa miliki .
Epstein menganjurkan sistem berbasis kompetensi atau bakat sesungguhnya yang berfokus pada kemampuan individu (bakat). Untuk beberapa hal itu akan berarti lebih banyak waktu di sekolah yang dikombinasikan dengan kerja atau proyek real. Bagi anak lainnya itu akan berarti bahwa pada usia 13 atau 15 mereka bisa mendirikan sebuah bisnis di Internet .
Sebagian anak yang lain akan memasuki dunia kerja dan melakukan semacam magang. Pabrik-pabrik eksploitatif sudah lama berlalu; orang-orang muda yang kompeten layak untuk bersaing karena itu penting, maka banyak yang akan mengejutkan kita dalam produktifitas atau kebaikan yang dilakukan anak muda ini.
Sejalan dengan itu Levesque menambahkan bahwa Media lah penyebab agresi, seksualitas, pamer tubuh, merokok dll. Kesimpulannya adalah media mempengaruhi segala sesuatu, tetapi juga bisa menentukan banyak hal hal baik.
Levesque menganjurkan agar remaja diberi ruang dalam kebebasan akses pada media namun untuk berekspresi positif karena ini penting bagi perkembangannya, kemudian kebebasan intelektual dan pengakuan hak cipta pada karya karya remaja, keduanya dibarengi dengan promosi literasi media agar produktif.
Jadikan remaja agen aktif navigasi informasi yang kompleks dan navigasi lingkungan sosial yang baik, bukan penerima pasif dari ide ide buruk. Kita harus membantu remaja agar diakui sebagai orang dewasa dengan penentuan nasib sendiri yang dinamis.
Kita akan melemahkan tujuan menjadikan remaja sebagai pemuda yang mandiri dan dewasa jika membatasi mereka atas dugaan ketidakdewasaan mereka.
Mari selamatkan remaja dengan menghilangkan masa remaja dalam struktur sosial kita, karena sesungguhnya mereka adalah generasi yang sudah aqilbaligh dan mampu memikul tanggungjawab syariah dan sosial.
Beri mereka tantangan. Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan". Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya karena pandangan bahwa mereka tidak dewasa.
Sejarah sudah membuktikan selama ribuan tahun bahwa anak anak muda belasan tahun sudah memiliki karya peradaban yang hebat karena sistem sosial dan pendidikan mendukung penuh dan tidak melambatkan kedewasaan mereka. Jika hari ini banyak pemuda alay, kitalah barangkali yang membiarkannya terjadi.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #81 By Ust Harry Santosa



Renungan Pendidikan #81
Nampaknya banyak Orangtua yang ketularan gaya penguasa dalam mendidik anak. Seringkali pertanyaan dan pernyataan mereka tentang pengasuhan atau pendidikan anak, selalu dimulai dengan kata, "bagaimana mengatasi?", "bagaimana menghilangkan?", "bagaimana mencetak atau membentuk?", "bagaimana mengendalikan", "bagaimana mengubah?" , dstnya.
Bahasa bahasa negatif penuh kecurigaan seperti ini sesungguhnya bahasa yang mencerminkan ketidakyakinan akan adanya fitrah manusia. Apa bedanya kita dengan John Locke, seorang filsuf atheis yang mengatakan bahwa anak adalah kertas kosong, atau filsuf lain yang menyebut anak terlahir bodoh dsbnya.
Bahasa yang sama juga sering digunakan oleh pemerintah yang merasa dirinya penguasa, misalnya yang sering kita dengar dengan kata kata "bagaimana mencetak generasi kompetitif", "bagaimana merekayasa pendidikan", "bagaimana mengendalikan" dstnya.
Bahasa bahasa seperti ini menggambarkan penuturnya masih menggunakan kacamata penjajah atau kolonial yang merasa lebih hebat sementara yang lain bodoh terbelakang tanpa kearifan. Penjajahlah yang berhak menentukan segalanya. Secara sadar atau tidak, ini narasi yang memandulkan dan sesungguhnya menolak kebebasan fitrah manusia.
Bahasa begini melahirkan narasi penjajahan peradaban, dimulai tentu saja dari bangku persekolahan yang dibuat oleh pemerintah yang merekayasa sistem termasuk sistem persekolahan terpusat, yang seolah kekuasaan adalah otoritas penentu takdir manusia yang Maha Benar.
Maka lahirlah kurikulum yang Maha Benar, Sekolah Formal yang Maha Benar, dan kemudian Kepala Sekolah yang Maha benar, dan yang parah adalah Guru yang Maha Benar. Lalu muncul Siswa Siswa senior yang Maha Benar yang boleh membully juniornya, lalu terciptalah sistem tertutup kekuasaan. Yang boleh menikmati kemerdekaan (baca: kekuasaan) hanyalah yang masuk dalam lingkaran elite yang Maha Benar.
Barangkali kita sering melihat bagaimana anak anak muda pelaku pembunuhan, hanya menangis ketika ditangkap, bukan karena menyesal. Mereka memang terbudayakan untuk selalu merasa benar. Tangisan mereka bukan penyesalan tetapi karena rasa sakit berupa hukuman kini menimpa mereka.
Lulusan sistem persekolahan begini jelas melahirkan pemimpin, guru dan orangtua yang arogan dan elitis.
Di sisi lain sesungguhnya, cara berfikir elitis dan arogan ini melahirkan ketakutan kolektif yang parah akan ancaman kemandirian institusi yang bukan formal.
Misalnya ada kekhawatiran dari pemerintah bahwa Home Education semakin meluas dan mematikan persekolahan formal. Agak aneh sebenarnya, karena Home Education atau pendidikan berbasis rumah ini adalah pendidikan informal yang dijamin UU.
Kekhawatiran nampak dengan berbagai peraturan Kemdiknas yang menggiring para pelaku pendidikan informal untuk masuk ke dalam jalur persekolahan formal. Misalnya keluarga keluarga yang menjalani pendidikan informal diminta untuk mendaftarkan anaknya kemudian diasses kurikulum rumahnya lalu anaknya digiring untuk ambil ijasah kesetaraan formal.
Padahal bisa saja Kemdiknas mendidik para orangtua untuk merancang sendiri kurikulum berbasis potensi untuk anak anak mereka sendiri, memfasilitasi anak anak usia belasan pada jalur pendidikan informal untuk mengambil sertifikasi internasional pada profesi yang menjadi minatnya, memobilisasi pemagangan nasional anak anak berbakat pada Maestro yang sesuai bakatnya dsbnya.
Indikator kesuksesan pendidikan nasional diukur dari jumlah anak yang bersekolah formal, bukan jumlah anak yang terus belajar dan berkarya dimanapun. Wajib belajar dipelintir menjadi wajib sekolah. Ini arogansi pendidikan formal yang tidak memahami bahwa generasi masa depan sebagian besar belum tentu menyukai pendidikan formal akademis.
Kakhawatiran lainnya adalah hadirnya komunitas pendidikan informal atau community based education. Walau ini juga dijamin UU. Pemerintah mencoba mensumirkan Community based Education (CBE) dengan Pendidikan berbasis masyarakat (PBM). Masyarakat dipahami dengan mudah sebagai sesuatu yang berbeda dengan komunitas. PBM ini dalam gagasan pemerintah bukan mendorong komunitas untuk mandiri membangun pendidikannya, malah dipaksa dibuat tergantung dan mengikuti kurikulum yang ada.
Sesungguhnya pendidikan berbasis masyarakat bukanlah menyekolahkan masyarakat dengan keterampilan seperti menjahit dan buta huruf, tetapi yang benar adalah sebuah pendidikan yang memberdayakan dan memandirikan komunitas, dimana keluarga keluarga dalam sebuah wilayah bahu membahu mendidik anak anak mereka sendiri secara berjamaah.
Di sisi lain, pemerintah juga menterjemahkan CBE sebagai Manajemen berbasis Sekolah (MBS) dimana sekolah dianggap sebagai komunitas itu sendiri dengan wujud komunitas itu berupa komite sekolah. Siapapun tahu bahwa Komite Sekolah ini umumnya hanya tukang stempel kemauan Kepala Sekolah dan kolega tetapnya, ketua komite. Ini sudah keterlaluan dan memasung kemandirian komunitas.
Yang paling baru adalah Direktorat KeayahBundaan, yang kemudian disumirkan menjadi Direktorat Pembinaan Keluarga (BinKel). Nampak bahwa AyahBunda sebagai sebuah entitas penting mendidik, kemudian disembunyikan dengan kata Keluarga lalu ditambah dengan kata pembinaan. Lagi lagi bahasa negatif yang penuh kecurigaan.
Sejak era Orde Baru, kita barangkali sudah kenyang dengan istilah "dibina" yang umumnya bermakna menerapkan program sepihak pada obyek yang harus dikendalikan, diawasi, diatur dstnya. Bahasa yang digunakan dalam menarasikan kemandirian rumah dan komunitas selalu digiring menjadi narasi kelemahan.
Barangkali pemerintah harus sadar, dunia kini sudah berubah, pemerintah dalam hal ini pendidikan seharusnya membuka diri seluasnya bagi pendidikan informal baik berbasis rumah maupun berbasis komunitas untuk mandiri menjalankan peran sejati keayahanbundaan di keluarga dan peran sejati pendidik di komunitas. Bukankah keluarga dan komunitas yang kuat akan menambah kuat negara?
Mari kita perkuat pendidikan berbasis rumah dan pendidikan berbasis komunitas, mulailah dengan narasi narasi besar peradaban dengan bahasa bahasa indah yang memerdekakan, membangkitkan dan menumbuhkan keindahan fitrah.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi
‪#‎pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Renungan Pendidikan #75 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #75
Adalah Temple Grandin seorang wanita muda bergelar Ph.D, yang hadir dalam sebuah seminar yang dihadiri psikolog dan para orangtua yang anak anaknya mengidap autis. Grandin melihat kebingungan dan kepanikan para orangtua apalagi ketika ada psikolog.yang mengatakan anak autis harus dikurung dsbnya.
Grandin tiba tiba berdiri dari tempat duduknya, dan berbicara dengan lugas. "Biarkan anak autis berputar - putar dan berguling - guling di alam terbuka, itu bagus baginya, karena akan mengurangi tekanan psikologis yang dialami mereka".
Ruangan menjadi senyap, semua mata menoleh kepadanya. Seorang bertanya, "Apa anda punya anak?"
Grandin menjawab, "Saya belum menikah".
Lalu seisi ruangan bergemuruh, seolah menggerutu, bagaimana mungkin seorang yang belum punya anak bisa bicara menasehati seperti itu tentang autis.
Grandin paham situasi, dengan lantang dia berkata, "Nama saya Grandin, saya seorang Ph.D dan saya seorang yang mengalami Autistik sejak kecil dan tidak bisa bicara sampai usia 4 tahun sehingga ibu saya harus menterapi bicara".
Lalu seisi ruangan nampak kembali bergemuruh, kali ini hadirin sangat takjub luar biasa. Bagaimana bisa seorang Autis meraih Ph.D?
Ada yang bertanya, "Apa anda sudah sembuh dari Autis?"
Grandin menjawab,
"Tidak, sampai hari ini saya masih mengidap Autis. Namun ibu saya sangat shabar mendidik saya. Memasukkan saya ke sekolah menengah biasa ketika beranjak remaja, namun meminta sekolah agar saya hanya fokus pada pelajaran sains yang saya sukai dan mengabaikan pelajaran yang lain. Pihak sekolah dengan bijak memberikan saya mentor seorang pakar sains yang sangat kreatif dan peduli sehingga saya jadi kreatif"
"Lalu ibu saya, ketika masa liburan panjang, mengirim saya ke peternakan, ke rumah bibi saya yang juga sangat shabar. Membiarkan saya apa adanya, berguling di lumpur, berputar putar di tali ayunan, bermain sepuasnya di alam termasuk bermain dengan sapi. Namun ibu dan bibi saya selalu dengan shabar memberitahu tentang bagaimana adab dan sopan santun. Anda tahu anak autis tidak suka basa basi, tidak suka menatap mata, membenci bila bersentuhan apalagi harus berpelukan."
"Saya akhirnya mau masuk perguruan tinggi, walau awalnya menolak. Itu karena tertarik dengan sapi. Selama di peternakan bibi saya, menginspirasi saya untuk mendalami peternakan khususnya sapi."
Lalu Grandin menceritakan bagaimana beratnya masa masa belajar dan bersosial di kampus. Sudah pasti dia dianggap makhluk aneh karena Grandin sangat sensitif terhadap suara dan visual. Misalnya Grandin takut luarbiasa dengan pintu geser otomatis, karena imajinya berlebihan sehingga menganggap rolling door akan mencelakakannya. Grandin juga jijik dengan pelajaran bahasa Perancis, karena dalam imajinya banyak kata kata dalam bahasa Perancis yang berpola kepada ikan.
Namun demikian Grandin sangat ekselen dan detail dalam membuat riset, bisa menghafal satu halaman penuh buku hanya dengan melihat sekilas dsbnya. Grandin juga mampu membedakan pola suara dan pola gerakan sapi yang sedih, marah dsbnya ketika membuat riset di peternakan.
Semua ditempuh dengan keshabaran dan dukungan penuh keluarga, walau ketika kuliah Grandin hidup sendiri di asrama dan ditemani roommate nya yang juga setia mendukung namun buta. Keluarganya, terutama ibunya selalu punya strategi dan seni untuk membuat Grandin mandiri dan fokus pada minatnya.
Grandin akhirnya sukses menjadi manusia yang memiliki peran sebagai perancang kandang dan peternakan yang karya karyanya banyak memberi manfaat dan merubah cara para cowboy memperlakukan ternak. Grandin tetap seorang yang atutistik, namun sisi cahaya kekuatannya yang membesar, sisi keterbatasannya menjadi tidak relevan.
Kisah Grandin di atas, bukan satu satunya. Ada ratusan anak anak Autis yang bahagia dan memiliki peran dan karya manfaat ketika mereka dewasa.
Mereka, para anak autis yang akhirnya punya karya manfaat itu, menjadi saksi hidup akan tiga hal.
Yang pertama, bahwa setiap anak yang dilahirkan ke muka bumi pasti ditakdirkan memiliki peran yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia dan alam semesta apabila dididik sesuai fitrahnya, baik fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah sosial dsbnya. Interaksi keunikan fitrah diri dengan fitrah alam melallui belajar bersama alam dan bersosial langsung dengan kehidupan nyata akan sangat baik.
Yang kedua, dukungan dan keyakinan penuh dari orangtua, lingkungan dan teman untuk menerima mereka apa adanya dan fokus pada sisi cahayanya bukan sibuk pada sisi keterbatasannya.
Ibu Grandin adalah orang yang sangat meyakini fitrah anak anaknya dan yakin bahwa Tuhan menciptakan Grandin pasti dengan maksud dan tujuan, dan semua well installed dalam potensi fitrah tiap anak sejak lahir. Orangtua hanya perlu telaten menggali dan membangkitkannya. Adab ditumbuhkan sepanjang proses mendidik.
Yang ketiga adalah dukungan komunitas, termasuk keluarga dan lembaga pendidikan yang mempersilahkan anak tumbuh sesuai fitrah keunikannya bukan penyeragaman akademis dan pemberhalaan kognitif. Para maestro harus urun tangan untuk mendampingi anak anak muda sesuai fitrah bakatnya, sebagaimana Guru Sains nya Grandin.
Grandin hanyalah contoh anak yang punya kekuatan dan sekaligus keterbatasannya, sama seperti manusia manapun di dunia. Potensi Grandin berupa sensitifitasnya pada suara dan penglihatan berujung pada karya, walaupun potensinya itu menjadikannya nampak aneh pada sosialnya. Tulisan ini tidak mendorong orangtua agar anaknya kelak meraih PhD., tetapi mendorong agar anak tumbuh sesuai fitrahnya dengan fokus pada kekuatannya bukan pada keterbatasannya.
Maka wahai ayah bunda, yakinlah pada fitrah penciptaan anak anak kita, biarkan mereka tumbuh mekar indah sesuai fitrahnya, jangan sekali kali mendahului takdir Allah dengan mengatakan anakku tidak punya masa depan karena bodohnya dan nakalnya setengah mati. Ingat, sibukkanlah dengan sisi cahaya anak kita bukan sisi gelapnya.
Semoga keridhaan kita pada fitrah Allah, menjadikan Allah ridha pada masa depan anak anak kita. Allahumma aamiiin.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Renungan Pendidikan #76 By Ust Harry Santosa

Renungan Pendidikan #76
Kesalahan fatal kita sebagai orangtua dan pendidik adalah ketika kita tidak pernah berhenti sejenak meluangkan waktu untuk merenung dan merefleksikan sendiri hakikat, misi dan visi ideal pendidikan dikaitkan dengan tujuan penciptaan dan misi kehidupan.
Akibatnya, kita cuma ikut-ikutan kata orang atau mengekor sistem persekolahan. Lantas kita bingung ketika anak-anak kita lulus dari sekolah sebagai pribadi yang ‘kerdil’, tidak tahu apa tujuan hidupnya, bingung terhadap peran dan minatnya (hilang fitrah bakat), tanpa memiliki keterampilan berpikir dan logika yang memadai (menyimpang fitrah belajar dan bernalar), tanpa kedewasaan dan kemandiran yang kokoh (disorientasi fitrah perkembangan - AqilBaligh) tanpa watak luhur atau akhlak mulia yang kita harapkan (rusak fitrah keimanan), juga ketidakpeduliannya pada lingkungan alamnya dan problematika bangsanya (tercerabut dari fitrah komunal).
Padahal kita tahu persis mereka adalah pribadi-pribadi dengan potensi besar berupa fitrah dan takdir peran yang telah Allah tetapkan dan amanahkan untuk kita didik.
Lalu siapa yang akan kita salahkan selain diri kita sendiri? Lalu kepada siapa doa doa anak yang shalih kita harapkan? Lalu apa yang akan kita jawab di hadapan Allah SWT tentang fitrah fitrah yang telah menyimpang dan rusak itu?
Begitulah kebanyakan orangtua dan pendidik, seringkali meletakkan pendidikan dalam kuadran penting dan genting, bukan dalam kuadran penting tetapi tidak genting. Dalam kuadran penting dan genting, para orangtua dan pendidik berada pada suasana dan situasi "panic & hectic mode on" yaitu selalu berfikir, merasa dan bertindak darurat emergensi sehingga tidak bisa melihat jernih situasi serta prioritas pendidikan fitrah anak anaknya.
"Panic & hectic mode on" ini mirip situasi pemadam kebakaran atau disaster recovery, dimana semua sumberdaya dan energi dihabiskan untuk melawan dan memadamkan bencana, sehingga tidak ada kesempatan merencanakan dengan matang dan sulit memastikan tidak ada kerusakan baru akibat penanganannya.
Menjadi Pemadam Kebakaran bagi berbagai Permasalahan Anak dan Pemuda akibat penyimpangan dan kerusakan fitrah sungguh memang jauh lebih sulit. Menyembuhkan fitrah yang rusak dan sakit selalu lebih rumit dan kompleks daripada menumbuhkan Fitrah yang sehat, indah dan bercahaya.
Hari ini energi mendidik anak dari para pendidik dan orangtua dihabiskan untuk memadamkan kebakaran krisis akhlak, disedot habis untuk membangun benteng benteng sterilisasi utk menahan gelombang besar air bah kerusakan moral. Seminar, pelatihan dan program dstnya difokuskan kepada menyelesaikan masalah yang luarbiasa kompleks.
Akibatnya banyak yang bereaksi berlebihan karena kepanikan dan ketidakpercayaan diri dengan mengirim anak sejak kecil ke boarding school agar tidak terpapar kerusakan lingkungan. Ada lagi dengan mendidik anak anak sejak dini dengan cara cara kedisplinan orang dewasa dengan melarang bermain, mendiamkan bahkan memukul ditambah lagi dengan menjejalkan ilmu agama dan akademis sebanyak-banyaknya sedini mungkin dengan keyakinan makin banyak dan makin cepat maka makin hebat dan makin shalih.
Padahal sunnatullahnya, jika sesuatu diberikan belum saatnya dan tidak relevan dengan kebutuhan sesuai fitrah perkembangannya maka alih alih jadi hebat dan shalih malah akan menambah masalah karena berpotensi merusak fitrah anak anaknya.
Ada juga orang orang degil yang memanfaatkan kepanikan para orangtua ini dengan jualan program yang dinamakannya pendidikan tetapi justru menjauhkan dari fitrah demi kepentingan obsesi atau bisnis semata. Orang orang ini tidak menyadari bahwa pendidikan berbicara tentang menumbuhkan fitrah untuk melahirkan generasi peradaban dgn peran mulia di masa depan, bukan menjajakan kecerdasan, mendorong persaingan dan memanipulasinya demi keuntungan sesaat namun menimbulkan kerusakan dan krisis manusia dan alam di masa depan.
Sesungguhnya Islam, meminta para orangtua dan pendidik menjadi para penumbuh benih benih fitrah bukan petugas pemberantas hama. Sesungguhnya orangtua dan pendidik dirancang untuk menjadi arsitek bangunan peradaban bukan menjadi renovator dan kontraktor puing puing bangunan peradaban. Kita bahkan dilarang lebay obsesif maupun abai pesimis terhadap fitrah sbg potensi terbaik peradaban.
Maka wahai ayahbunda dan pendidik, marilah kembali pada kesejatianmu sebagai arsitek peradaban, untuk merenungkan misi dan tujuan penciptaan serta relevansinya dengan pendidikan, untuk tenang dan khusyu merancang pendidikan anak anakmu sesuai fitrahnya, untuk yakin dan berani namun rileks dan optimis menjalani amanah merawat dan menumbuhkan fitrah anak anaknya dengan konsisten walau seisi dunia bertentangan dan berbeda dengannya.
Mari kembalikan kesejatian peran mendidik dan kesejatian pendidikan dengan pendidikan berbasis fitrah dan akhlak. Mari menjadi arsitek peradaban, mari menjadi arsitek perancang kurikulum pendidikan anak anak kita sendiri sesuai fitrah mereka.
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak